Sejauh mata gue memandang, banyak orang yang beranggapan bahwa Srikandi adalah simbol kekuatan dan kehebatan seorang wanita. Bahkan di institusi kepolisian, para Polwan dianugerahi sebutan Srikandi Polri. Semakin mantab dong opini bahwa Srikandi memang sosok yang menakjubkan. Tapi setelah baca Mahabharata, di persepsi gue Srikandi adalah seorang karakter yang enggak banget. Ini opini pribadi yah, jadi plissss bagi penggemar tokoh Srikandi jangan bully gue pakek cabe dan merica :D
Jadi ceritanya dimulai dari Raja Sentanu yang ingin menikahi seorang gadis anak kepala kampung nelayan bernama Satyawati. Tapi bapaknya Satyawati ini agak-agak jahat, dia bersedia ngawinin anaknya sama Raja Sentanu kalo sang Raja mau janji kelak anak-anak keturunan Satyawati harus menjadi putra mahkota. Raja Sentanu yang udah ngejadiin Dewabrata (anak pertamanya hasil pernikahan dengan Dewi Gangga) sebagai putra mahkota jadi galau dong. Tapi karena Dewabrata adalah anak berbakti, dia ngerelain melepas gelar putra mahkota agar Raja Sentanu nikah sama Satyawati. Dewabrata akhirnya bersumpah nggak akan nikah sehingga dia nggak akan punya keturunan yang kelak mungkin akan berusaha merebut hak tahta mereka kembali. Sejak itulah namanya berubah menjadi Bhisma.
Singkat cerita, akhirnya Raja Sentanu dan Satyawati kawin dan punya dua orang anak bernama Chitranggada dan Wichitawirya. Chitranggada tewas karena bertempur melawan gandarwa. Ketika Wichitawirya sudah cukup dewasa, maka dialah akhirnya yang dinobatkan sebagai putra mahkota. Sebagai kakak tiri, Bhisma berkewajiban pula mencarikan calon permaisuri yang pantas. Waktu itu, ada Kerajaan Kasi yang sedang ngadain sayembara mencarikan calon suami untuk ketiga putrinya, yaitu Amba, Ambika, dan Ambalika. Karena Bhisma pada dasarnya udah sakti, akhirnya dialah yang memenangkan sayembara itu atas nama Wichitawirya. Setelah menang, dia langsung ngebawa kabur Amba, Ambika, dan Ambalika gitu aja.
Tanpa diketahui sebelumnya, ternyata si Amba udah pacaran sama Raja Salwa. Dia nolak menikah dengan Wichitawirya. Bhisma ngabulin permintaan Amba agar ia kembali ke pelukan Raja Salwa. Amba seneng, dan pergilah dia ke kerajaan Raja Salwa. Tapi ternyata Salwa udah nggak mau sama Amba karena udah merasa kalah dan terhina ketika hari sayembara itu. Akhirnya Raja Salwa nyuruh prajurit untuk ngembaliin lagi Amba ke Bhisma. Amba sakit hati dan ngadu apa yang udah ia alami ke Bhisma. Bhisma akhirnya membujuk Wichitawirya untuk juga segera menikahi Amba, tapi Wichitawirya ternyata udah nggak mau karena merasa hati Amba udah sepenuhnya dimiliki Raja Salwa.
Penolakan Wichitrawirya merupakan beban berat bagi Bhisma, karena dia sendiri telah bersumpah tidak akan pernah menikah. Tak mungkin dia melanggar sumpahnya sendiri. Lebih-lebih karena ia keturunan bangsawan yang terhormat. Ia iba kepada Amba, tetapi tak kuasa berbuat apa-apa. Beberapa kali dicobanya membujuk Wichitrawirya, tetapi adiknya itu tetap pada pendiriannya. Tak ada jalan lain. Ia terpaksa menasihati Amba agar kembali lagi kepada Salwa. Hal itu sungguh sangat berat bagi Amba. Karena tak berani kembali ke sana, selama beberapa waktu Amba terpaksa bersembunyi di Hastinapura. Akhirnya dengan perasaan berat, Amba mencoba kembali kepada Raja Salwa. Sekali lagi, dengan suara yang keras dan tegas, Raja Salwa menolak Amba.
Demikianlah, Amba yang jelita kemudian terpaksa melewatkan hari-harinya dalam kemurungan. Hampir enam tahun lamanya ia hidup tanpa cinta, penuh duka, dan tanpa harapan. Parasnya yang segar dan jelita menjadi layu dan kisut. Hatinya yang menderita berubah, berisi kepahitan dan kebencian kepada Bhisma — yang menurutnya telah menghancurkan hidupnya. Sia-sia ia berusaha mencari seorang kesatria tangguh untuk bertarung melawan Bhisma dan kalau bisa sekaligus membunuh pangeran tua itu. Tak seorang kesatria pun berani bertarung dengan Bhisma yang termasyhur sakti dan perkasa.
Akhirnya, Amba pergi ke hutan dan bertapa dengan sangat tekun. Ia memohon kepada Dewa Subrahmanya agar membantunya menghancurkan Bhisma. Dewa itu menghadiahkan seuntai kalung bunga teratai segar yang sudah diberi restu-pastu. Orang yang berkalung bunga teratai segar itu akan menjadi sakti dan dengan kesaktiannya ia akan mampu mengalahkan Bhisma. Amba menerima kalung bunga teratai itu. Kemudian sekali lagi ia mencari seorang kesatria yang mau memakai kalung bunga hadiah Dewa Subrahmanya, dewa sakti berwajah enam. Sayang sekali, tak seorang kesatria pun mau menerimanya. Tak seorang kesatria pun berani melawan Bhisma yang termasyhur kesaktiannya. Kemudian Amba menghadap Raja Drupada. Raja ini juga menolaknya. Akhirnya, Amba meninggalkan kalung bunga itu di pintu gerbang istana Raja Drupada lalu pergi mengembara ke dalam hutan.
Kepada beberapa pertapa yang ditemuinya di hutan, Amba menceritakan pengalamannya yang menyedihkan itu. Mereka menasihatinya agar menghadap Parasurama. Amba menuruti nasihat mereka, ia pergi menghadap Parasurama. Mendengar cerita Amba, Parasurama merasa kasihan. Ia berkata, “Wahai anakku yang jelita, apa yang kau kehendaki sekarang? Aku dapat meminta Salwa untuk mengawinimu jika engkau mau.”
Amba menjawab dengan hati teguh, “Tidak, saya tidak menginginkan itu lagi. Saya tak punya hasrat lagi untuk menikah atau mencari kebahagiaan. Satu-satunya yang saya inginkan dalam hidup ini adalah membalas dendam kepada Bhisma. Saya bersumpah, yang saya inginkan tak lain hanyalah kematian Bhisma.”
Parasurama mendengarkan kata-kata Amba dengan penuh perhatian. Ia sendiri amat membenci golongan kesatria. Karena itu, ia memutuskan untuk menolong Amba dan bertarung melawan Bhisma. Pertempuran mereka sangat hebat dan berlangsung lama. Dua-duanya setara kesaktian dan kemahirannya dalam olah senjata. Tetapi, akhirnya Parasurama harus mengakui keunggulan Bhisma.
Setelah dikalahkan Bhisma, ia menemui Amba dan berkata, “Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkan dan menghancurkan Bhisma, tetapi aku kalah. Satu-satunya jalan bagimu adalah kembali kepadanya dan menyerahkan nasibmu kepadanya. Hanya itu yang dapat kaulakukan.”
Dengan membawa duka, sakit hati, dendam, dan kebencian, akhirnya Amba pergi ke kaki Gunung Himalaya untuk bertapa. Dengan khusyuk ia bertapa dan terus-menerus melakukan penyucian diri agar dapat menerima karunia Batara Shiwa karena di dunia tak ada lagi manusia yang bisa menolongnya.
Setelah lama bertapa dengan sangat khusyuk, Batara Shiwa muncul di hadapannya dan memberinya restu: ‘dalam inkarnasinya yang akan datang, Amba dapat membunuh Bhisma’. Amba tidak sabar menunggu hingga masa inkarnasinya yang akan datang. Karena itu, ia membuat api unggun besar dan melakukan satya, mengorbankan diri dengan terjun ke dalam api yang berkobar-kobar. Dengan satya, badannya akan hangus terbakar.
Atas pertolongan Batara Shiwa, Amba berinkarnasi, terlahir kembali sebagai putri Raja Drupada. Ajaib! Beberapa tahun kemudian ia menemukan kalung bunga teratai yang dahulu ia gantungkan di pintu gerbang istana Raja Drupada. Kalung bunga itu masih elok dan segar, seakan-akan tak pernah disentuh orang. Maka dikalungkanlah untaian bunga itu di lehernya. Melihat perbuatannya yang gegabah itu, Raja Drupada menjadi cemas karena ingat bagaimana dahulu Amba mengalungkan untaian bunga itu di situ sebelum meninggalkan istana Hastinapura dengan hati penuh dendam. Putri yang mendendam itu kemudian bertapa di hutan yang lengang dan sunyi.
Begitulah, putri Raja Drupada mengambil untaian bunga itu dan mengalungkannya di lehernya. Ajaib! Lama kelamaan, kelamin putri Raja Drupada itu berubah. Ia menjadi seorang laki-laki dan kemudian termasyhur dengan nama Srikandi. Kelak dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi bertempur di depan kereta Arjuna melawan Bhisma. Dalam perang di padang Kurukshetra itu, Bhisma tahu benar bahwa Amba telah lahir kembali dalam wujud Srikandi, yakni perempuan yang berubah menjadi laki-laki, dan karena penampilannya yang tetap seperti wanita, menurut tata krama, aturan perang dan sumpahnya sendiri, dalam keadaan apa pun Bhisma tidak boleh melawannya. Dalam keadaan apa pun Bhisma tidak akan bertempur melawan Srikandi. Karena itulah, akhirnya Bhisma mati karena dipanah Srikandi.
***
Jadi di otak lugu gue, gue nangkep kalo Srikandi ini adalah transgender (dari perempuan berubah kelamin menjadi laki-laki) dan waria (sudah menjadi laki-laki, tetapi tetap bertahan berpenampilan seperti perempuan) yang kurang bersih hatinya. Pendendam akut yang nggak bisa move on secara positif. Ini adalah karakter Srikandi versi Mahabharata India. Kalo di wayang Jawa, gue nggak tau pasti Srikandi digambarkan sebagai sosok yang bagaimana hingga banyak orang yang begitu mengagungkannya sebagai pahlawan besar. Kalo dari asal-usul, jelas Srikandi bukanlah sebuah contoh yang baik, namun kalo gelar pahlawan tersebut didasarkan atas keberaniannya melawan bala Korawa pada perang Baratayudha di Kurukshetra, bisa jadi dia memang sangat gagah berani. Tapi gue tetep nggak rela soalnya Srikandi udah ngebunuh Bhisma (duh, ngotot banget yah).
Sejak kemunculan Mahabharata, buku tersebut memang mengalami berbagai tambahan dari penulis ke penulis, dari penutur ke penutur sehingga banyak sekali adaptasi sesuai wilayah. Tokoh Drupadi misalnya, dalam Mahabharata asli, dia adalah istri semua kelima Pandawa (poliandri), namun di Jawa yang menyesuikan dengan tradisi Islam, akhirnya Drupadi hanya digambarkan sebagai istri Yudhistira saja.
Otak gue emang masih cetek memahami tokoh-tokoh Mahabharata yang jumlah totalnya ngalah-ngalahin pemeran utama trilogi The Lord of The Ring. Jadi kalo elo punya versi lain tentang Srikandi bisa share di sini biar penilaian ngotot gue kalo Srikandi bukan tokoh yang baik bisa berubah :D
Note:
1. Wichitawirya dengan Ambika mempunyai anak bernama Dretarastra (ayah seratus Korawa). Wichitawirya dengan Ambalika mempunyai anak bernama Pandudewanata (ayah lima Pandawa). Harapan ayah Satyawati terkabul sebab keturunannya telah menjadi raja-raja di Hastinapura.
2. Cerita di atas sebagian diringkas, sebagian dicopy mentah-mentah dari buku Mahabharata karangan Nyoman S. Pendit.

asyik cerita wayang...
BalasHapus