Pada sebuah Pulau Weh. Sebut saja namanya Teguh. Beberapa orang memanggilnya Brown. Aku tertawa, seharusnya namanya Grey. Bulu-bulunya telah beruban. Ibarat manusia, dia sudah hampir menemui ajalnya. Beruntung aku sudah pernah menemuinya sebelum ia punah atau menjadi bangkai. Tak ada yang tahu berapa umurnya, namun dia telah berada di sana sejak puluhan tahun lalu. Menjadi penunggu setia pucuk terbarat Indonesia, tanpa kawan, tanpa saudara. Andai dia manusia, pasti oleh Bapak Presiden dia sudah mendapat penghargaan Wira Nusa. Sayang, dia hanya seekor babi hutan.
(Foto ini diikutkan dalam TOURNAMENT OF GREY)

Kapan ya saya bisa sampai ke titik nol kilometer...makasih ya ikut turnamen Grey..
BalasHapus