Sepanjang karier sebagai freelance and indie writer, memang baru kali ini mendapati moment yang WOW banget. Dialah LAMITTA, sebuah cerpen yang menceritakan kisah cinta salah satu prajurit kontingen Indonesia Battalion di Lebanon yang menjadi juara satu pada lomba cerpen yang diadakan penerbit Diva Press.
Dan moment yng paling keder adalah saat membaca MoU penulis dan penerbit.
Hahaha, ndesooooooooo!
Ini dia cerpen yang paling fenomenal sepanjang karier menulisku. Ketika polling berhasil mengumpulkan 503 like dan akhirnya dinobatkan menjadi Juara 1 dari 3.559 peserta. Dapat hadiah Galaxy Tab dehhhh :D
LAMITTA
Hari
ke 178.
Aku
akan sangat merindukan desa ini. Hari terakhir menjalankan tugas sebagai personel
Indonesia Battalion membuat hatiku
galau. Semacam ada mendung menggelayut meski langit terpapar cerah. Segala
persiapan kepulangan ke Indonesia sedang dipersiapkan. Besok aku sudah akan
bertolak ke Beirut untuk mengikuti medal
parade, lencana UN Peace Keeping
Medal in UNIFIL akan disematkan, namun sampai detik ini aku belum juga
bertemu Lamitta.
Aku tak bisa menemuinya di padang
domba, sebab peraturan melarang setiap peacekeeper
UNIFIL berkeliaran tanpa ada kepentingan khusus. Kegiatan patroli sudah
ditiadakan, padahal itulah satu-satunya kesempatanku untuk bisa bertemu dengan
gadis itu di sekitar blueline.
Aku tak ingin meninggalkan Lamitta
tanpa pamit meskipun dia telah mengetahui bahwa tugasku sebagai tentara UNIFIL
sudah nyaris selesai dan akan digantikan oleh Kontingen Garuda baru. Aku ingin
melihat wajah jelitanya untuk terakhir kali sebelum kembali ke tanah air.
Rekan-rekan Indobatt yang bertugas
di wilayah El Adeisse nampak ceria sebab tak lama lagi mereka akan kembali bertemu
keluarga setelah setengah tahun hanya bisa berkomunikasi lewat Facebook, Skype atau Yahoo Messenger. Namun tidak bagiku, aku betul-betul gusar sebab akan
meninggalkan Lamitta tanpa ada kepastian apakah akan bisa bertemu kembali atau
tidak.
Lamitta adalah gadis miskin di El
Adeisse, wilayah Lebanon Selatan yang berbatasan langsung dengan Israel. Aku
bertemu dengannya ketika sedang melakukan patroli jalan kaki sekitar tiga bulan
lalu di sekitar padang domba dekat garis biru. Saat itu, beberapa domba yang
sedang digembalakannya hampir melewati technical
fence. Aku membantunya menghalau domba agar tidak masuk tapal batas negara.
Tentara Israel begitu tegas menindak segala macam pelanggaran batas, termasuk
ulah domba dan sapi-sapi gembala yang tidak tahu apa-apa. Militer Israel tidak
pandang bulu untuk melakukan tindakan apapun demi integritas wilayahnya.
Antisipasi mereka begitu ketat, terutama penduduk yang dicurigai sebagai mata-mata
Hizbullah.
Kukira Lamitta adalah ibu-ibu, sebab
ketika itu dia memakai semacam kain lebar berwarna marun lusuh yang ia
sampirkan ala kadarnya di kepala.
Aku
mendekati Lamitta, namun dia nampak waspada. Sejarah perang telah membuat
penduduk Lebanon selalu curiga terhadap kehadiran orang baru. Aku berusaha
mengajaknya bicara, namun gadis itu hanya menampakkan ekspresi kebingungan.
Mimik polosnya menggugah perhatianku. Kemudian Lamitta mendekatiku, mengucapkan
sesuatu yang tak kupahami. Namun dari gerak-geriknya aku tahu dia mengucapkan
terimakasih. Ia begitu memesonaku, kecantikan khas perempuan Mediterania,
percampuran Arab dan Eropa. Sebagai bujang normal, mustahil jika aku tak
terpesona. Dia ibarat mawar merah yang menyembul di tengah hamparan rumput
kering.
Sejak
itulah aku kerap menjumpainya di padang domba satu atau dua minggu sekali
setiap melakukan patroli. Tak bisa berlama-lama juga, sebab di sini aku
bertugas sebagai pasukan perdamaian, bukan untuk bertamasya.
Dari
seorang rekan yang bisa berbahasa Arab, dia memberitahuku bahwa Lamitta adalah
pemeluk minoritas Katolik Khaldea. Lamitta ingin sekali mengunjungi Indonesia
sebab dia sangat mengidolai pasukan Garuda.
Di
kalangan warga Lebanon, Indobatt memang sangat disukai karena kerap menyentuh
sisi kemanusiaan secara langsung. Cerita yang paling populer adalah Maryam,
seorang gadis miskin dan lumpuh di desa Dier Sirien. Beberapa personel Indobatt
mengunjungi rumah Maryam sambil membawakan sekotak cokelat dan sebatang lilin
di hari ulang tahunnya. Tangis haru menyeruak dari keluarga Maryam. Kemudian
cerita ulang tahun tersebut menyebar dari mulut ke mulut, melambungkan citra
positif Indonesia di mata rakyat Lebanon.
Wajah
molek Lamitta memang telah memberikan suasana segar bagi hari-hariku di negeri Kahlil
Gibran ini. Aku sering mencuri wajahnya untuk kuabadikan dalam foto. Ya,
betul-betul mencuri, sebab masyarakat Lebanon tak pernah suka dirinya dijadikan
objek pengambilan foto. Mereka tak pernah senang dipotret, juga tak pernah
setuju jika ada orang mengambil gambar rumah-rumah dan lingkungan desa mereka
secara sembarangan. Pengaruh perang telah mendidik mereka menjadi orang yang
selalu siaga. Mereka khawatir pengambilan gambar tersebut ditujukan untuk
kepentingan intelejen musuh.
Ponselku dipenuhi oleh rupa ayu Lamitta.
Gambar-gambar inilah yang membuatku terhindar dari penyakit jenuh. Kadang rasa
bosan di compound, jauh dari hiburan
dan keluarga, terasa lebih mematikan daripada terkena kanker otak. Setiap
malam, setiap merasa sepi, foto Lamitta selalu bisa menjadi pendamping setiaku.
Bagiku
cukup dengan menjumpai Lamitta selama beberapa menit di padang domba setiap
kali patroli sudah bisa membuat gundahku hilang meski komunikasi tak pernah berjalan
lancar. Lamitta tidak bisa berbahasa Inggris, dia selalu menggunakan bahasa
Arab, sedangkan aku tak paham sama sekali bahasa Arab. Surat Al Fatihah yang
kubaca setiap haripun tak kuhafal maknanya.
Waktu semakin merapat, hasratku
untuk bertemu Lamitta semakin tak terbendung. Hari sudah beranjak sore, besok pagi
aku sudah tak di sini lagi.
Dengan segala pertimbangan aku
keluar compound tanpa ijin.
Escape!
Aku
menemui Lamitta di padang domba sebelum matahari tenggelam. Aku ingin
memberikan boneka teddy ini kepadanya. Boneka ini adalah souvenir khas Kotingen
Garuda. Dua minggu yang lalu, Indobatt membagikan boneka ini gratis kepada
anak-anak El Adeisse, aku menyembunyikan satu, menyisakannya untuk kuberikan
pada Lamitta.
Tiba-tiba
suara gemuruh terdengar di atas kepala, sebuah helikopter Black Hawk milik Israel terbang melintas di sepanjang lekukan blueline ketika aku nyaris sampai di
tempat Lamitta. Patroli udara Israel memang sering mondar-mandir di sekitar blueline di waktu-waktu yang tak terduga
dan tak pasti. UNIFIL sudah melayangkan surat protes, namun tak pernah
ditanggapi. Ibarat siswa di kelas, Israel adalah murid yang bandel.
Debu-debu
beterbangan, domba-domba Lamitta tercerai berai karena suara bising pesawat
yang terbang rendah, beberapa ada yang nyasar mendekati technical fence. Lamitta panik karena domba-domba gembalanya
berlarian kesana kemari. Puluhan domba menerobos kawat technical fence yang di beberapa bagian memang tidak dibangun
secara permanen. Domba-domba itu melakukan perjalanan internasional tanpa
paspor dan visa. Tentara Israel lain yang kebetulan juga sedang patroli darat dengan
kendaraan Humvee dan jip Sufa segera turun, menendang-nendang domba Lamitta
agar kembali ke wilayah Lebanon dengan berang. Salah seorang tentara Israel sudah
membidik kepala Lamitta.
Ah
gila! Ini buruk!
Aku
segera melambaikan tangan ke udara, memberikan kode agar mereka tak menarik
pemicu senapan.
Tak
kubayangkan jika tadi aku menunda waktuku menemui Lamitta, barangkali gadis itu
sekarang sudah menjadi mayat atau menjadi tawanan tentara Israel. Tertangkap
tentara Israel adalah kesuraman tiada tara, bisa dipenjara selama
bertahun-tahun atau bahkan tak pernah kembali ke Lebanon untuk selamanya. Namun
jika Lamitta yang tertawan, aku takut dia mendapat perlakuan yang lebih buruk
yakni pelecehan seksual, sebab Lamitta, setidaknya bagiku, berwajah seperti
bidadari.
Tak ingin aku berlama-lama kontak
dengan tentara Israel atau menampakkan badan secara terbuka di sekitar blueline, sebab akan membahayakan diriku
sendiri, sebab kali ini aku datang bukan dalam rangka tugas, namun demi
kepentingan pribadi menemui Lamitta. Aku khawatir keberadaanku akan tertangkap
teropong dari pos pantau di Panorama
Point. Sebelum pergi, tentara Israel memberikan semacam isyarat untuk
tidak berusaha berbuat macam-macam di
sekitar blueline.
Domba-domba Lamitta berjalan pelan
kembali ke padang. Hari sudah semakin senja. Lamitta menggamit tanganku, membawaku
duduk di bawah pohon zaitun yang tak terlalu rindang di atas bukit. Di salah
satu titik perbatasan nampak bendera Lebanon berkibar berdampingan dengan
bendera Hizbullah. Dari sini aku juga bisa melihat jelas hamparan wilayah
pertanian Israel yang sudah dikelola dengan teratur, berbeda sekali dengan
tanah Lebanon yang masih banyak dibiarkan terbengkalai. Para petani Lebanon
masih trauma dengan adanya cluster bomb
atau sisa-sisa ranjau perang yang ditabur Israel pada perang di tahun 2006. Ranjau-ranjau
ini tersebar secara acak dan tidak diketahui persis kedudukannya. Jika diamati
pada peta UNIFIL, maka sepanjang garis blueline
di Area Operation Indobatt dipenuhi
dengan titik-titik merah yang menandakan banyaknya ranjau antipersonel dan antitank.
Wajah Lamitta nampak lega luar biasa
sebab aku datang di waktu yang tepat. Wajah paniknya tak bisa disembunyikan
disertai keringat yang mengucur deras. Dia menceracau, tentu saja dengan bahasa
Arab yang tak kumengerti, barangkali dia sedang menceritakan kekalutannya ketika
domba-domba gembalanya berlarian tak terkendali, serta ketakutannya karena
patroli Israel turun dan menampakkan perilaku seram.
Selama
dia berkicau, aku hanya memerhatikan bola mata warna hazelnya yang berbinar,
juga alis tebal berwarna coklat tua yang melengkung indah. Dilihat dari sudut manapun, Lamitta memang
menawan. Tak kuperhatikan ocehannya, sebab percuma saja, aku tak paham sedikitpun
apa yang ia katakan.
Aku keluarkan teddy Indobatt dari
dalam ransel kecil yang kubawa. Lamitta nampak terkejut, namun senang. Dia
segera menyambar boneka itu, menciuminya, lalu mendekapnya di dada. Angin
semilir berhembus, hatiku turut sejuk melihat kebahagiaan Lamitta menerima
pemberianku. Barangkali ini adalah boneka pertama yang ia punyai sepanjang
hidup.
“Thank
you,” ucap Lamitta dengan aksen Arab. Aku terkejut. Baru sekali ini
kudengar Lamitta mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris.
“Can
you speak English?” aku berharap lebih.
Lamitta langsung menampakkan wajah
tak mengerti. Harapanku langsung sirna seketika. Lamitta tidak bisa bahasa
Inggris. Kata ‘thank you’ adalah kata
yang paling mudah. Semua orang di dunia, meski ia tak pandai bahasa Inggris,
juga pasti tahu kalau ‘thank you’
berarti terimakasih.
Aku ingin sekali berbicara banyak
dengan Lamitta, berbincang dengannya selayaknya teman akrab. Ingin pula aku
mengutarakan segala perasaan yang kusimpan. Namun apalah daya, mendengar
Lamitta berbicara malah seperti mendengar orang yang sedang merapal doa di
pengajian. Andai saja Lamitta tinggal di Beirut atau Tripoli, barangkali dia
bisa mendapat pendidikan yang lebih baik dan mempelajari bahasa Inggris
sehingga kami tidak sama-sama kebingungan seperti sedang berhadapan dengan
alien seperti saat ini.
“Lamitta,” kupanggil namanya lirih.
Lamitta
menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Ada semacam getaran. Jantungku berdebar.
Jika mampu, tentu akan kubawa gadis ini pulang ke Indonesia.
Aku terbawa dalam pesona tatapnya.
Jika tak ingat kalau waktuku terbatas, pasti aku akan memilih menghabiskan
malam terakhir ini bersama Lamitta saja.
Kukeluarkan sebuah gulungan kertas.
Aku menggelarnya di hadapan Lamitta. Lamitta
takjub. Aku memberikan isyarat agar Lamitta memerhatikan apa yang kulakukan.
Aku berbicara sambil menulis, tak peduli dia paham atau tidak.
“Lamitta, dengar, ini adalah peta
negaraku, Indonesia. Aku dengar kau ingin pergi ke Indonesia. Lihat, aku tinggal
di kota ini, kota Surabaya. Kalau suatu saat kau benar-benar datang ke
Indonesia, temui aku di kota ini,” aku melingkari kota Surabaya dengan spidol,
kemudian menuliskan alamat tempat tinggal dan dinasku di bagian Laut Jawa. Tak
lupa aku mencantumkan alamat email. Sungguh aku tak ingin kehilangan kontak
dengan Lamitta. Aku harap Lamitta hijrah ke kota sehingga dia bisa mengakrabi internet
dengan lebih baik. Lebanon adalah negara maju, mustahil Lamitta akan buta
teknologi seumur hidup. Aku juga berharap Lamitta benar-benar bisa datang ke
Indonesia suatu saat kelak.
Kuserahkan peta itu kepada Lamitta.
Matahari sudah nyaris tenggelam, langit perlahan berubah jingga. Lamitta harus
kembali pulang dengan domba-dombanya, akupun juga harus kembali ke compound untuk mempersiapkan keberangkatanku
ke Beirut besok pagi.
Aku memandangi wajah Lamitta
lekat-lekat. Lamitta nampak sendu. Hidungnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Dia
merangkul leherku. Aku membalas memeluknya. Dia mencium sisi kanan pelipisku.
Perpisahan tanpa kata, sebab kami sama-sama tidak tahu harus mengucapkan
perpisahan dalam bahasa apa agar sama-sama dimengerti.
***
Empat
tahun sudah aku meninggalkan Lebanon. Sejauh itu, aku tak pernah mendengar
kabar dari Lamitta. Apakah dia masih hidup, sudah menikah, atau malah sudah mati
dibunuh tentara Israel karena domba-dombanya yang nakal menerobos technical fence. Semua serbagelap. Hanya
wajah rupawannya yang masih kusimpan di memori ponsel, kuletakkan di folder terdalam, tak ada satupun yang
kuhapus.
Angin laut pantai Iboih berhembus
kencang. Ikan-ikan menari di sela-sela terumbu pada kedalaman laut dangkal yang
masih jernih. Sabang begitu senyap. Sunyi, namun lebih menenangkan. Belum genap
setahun aku pindah tugas di ujung terbarat negeri ini.
Matahari membiaskan jingganya di
samudera, mengingatkanku pada senja terakhir bersama Lamitta di atas bukit. Kupandangi
fotonya sambil tersenyum miris. Entah bagaimana aku bisa jatuh hati pada
Lamitta, penggembala domba dengan kain marun lusuhnya.
Tiitt
tittt!
Ponselku
memberikan tanda email masuk.
From : mittanery@yahoo.com
To :
guntur_army@yahoo.co.id
Subjek : hi!
Hi, Mr. How are u? I’m Lamitta. Do u remember me, don’t u? I’m on Surabaya now. Want to
meet u. Miss u badly.
Aku
melotot membaca pesan di email tersebut. Benarkah ini Lamitta? Dia sedang
berada di Surabaya?
Jantungku
serasa loncat, masih tak percaya. Tiba-tiba aku merasa sangat gelisah. Sekejap
ada pikiran aku akan segera melesat ke Banda Aceh lalu memesan tiket
penerbangan ke Juanda sekarang juga. Buru-buru kutekan tombol reply. Namun dua kata pertama yang
kutulis segera kuhapus.
Kupandangi
layar ponsel dengan tatapan kosong. Semacam dilematis hebat mendadak hadir
dalam pikiranku. Kulihat di kejauhan wajah istriku nampak riang bermain-main di
antara ombak kecil di bibir pantai. Batinku berkecamuk, seperti perang hebat
yang sama-sama ingin memenangkan masing-masing pendapat. Cinta tak pernah hadir
tepat waktu.
Aku
memejamkan mata. Rinduku pada Lamitta telah mencapai titik tertinggi, sudah tak
tertahankan.
Lamitta, akhirnya kau
datang juga.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar