Selasa, 04 Desember 2012

WHEN MY SHORT STORY GOES TO NOVEL

Sesuatu banget yaa dicalling salah satu penerbit mayor, minta agar cerpenku dijadikan novel.

Sepanjang karier sebagai freelance and indie writer, memang baru kali ini mendapati moment yang WOW  banget. Dialah LAMITTA, sebuah cerpen yang menceritakan kisah cinta salah satu prajurit kontingen Indonesia Battalion di Lebanon yang menjadi juara satu pada lomba cerpen yang diadakan penerbit Diva Press.

Dan moment yng paling keder adalah saat membaca MoU penulis dan penerbit.

Hahaha, ndesooooooooo!


Ini dia cerpen yang paling fenomenal sepanjang karier menulisku. Ketika polling berhasil mengumpulkan 503 like dan akhirnya dinobatkan menjadi Juara 1 dari 3.559 peserta. Dapat hadiah Galaxy Tab dehhhh :D




 
LAMITTA

Hari ke 178.
Aku akan sangat merindukan desa ini. Hari terakhir menjalankan tugas sebagai personel Indonesia Battalion membuat hatiku galau. Semacam ada mendung menggelayut meski langit terpapar cerah. Segala persiapan kepulangan ke Indonesia sedang dipersiapkan. Besok aku sudah akan bertolak ke Beirut untuk mengikuti medal parade, lencana UN Peace Keeping Medal in UNIFIL akan disematkan, namun sampai detik ini aku belum juga bertemu Lamitta.
            Aku tak bisa menemuinya di padang domba, sebab peraturan melarang setiap peacekeeper UNIFIL berkeliaran tanpa ada kepentingan khusus. Kegiatan patroli sudah ditiadakan, padahal itulah satu-satunya kesempatanku untuk bisa bertemu dengan gadis itu di sekitar blueline.
            Aku tak ingin meninggalkan Lamitta tanpa pamit meskipun dia telah mengetahui bahwa tugasku sebagai tentara UNIFIL sudah nyaris selesai dan akan digantikan oleh Kontingen Garuda baru. Aku ingin melihat wajah jelitanya untuk terakhir kali sebelum kembali ke tanah air.
            Rekan-rekan Indobatt yang bertugas di wilayah El Adeisse nampak ceria sebab tak lama lagi mereka akan kembali bertemu keluarga setelah setengah tahun hanya bisa berkomunikasi lewat Facebook, Skype atau Yahoo Messenger. Namun tidak bagiku, aku betul-betul gusar sebab akan meninggalkan Lamitta tanpa ada kepastian apakah akan bisa bertemu kembali atau tidak.
            Lamitta adalah gadis miskin di El Adeisse, wilayah Lebanon Selatan yang berbatasan langsung dengan Israel. Aku bertemu dengannya ketika sedang melakukan patroli jalan kaki sekitar tiga bulan lalu di sekitar padang domba dekat garis biru. Saat itu, beberapa domba yang sedang digembalakannya hampir melewati technical fence. Aku membantunya menghalau domba agar tidak masuk tapal batas negara. Tentara Israel begitu tegas menindak segala macam pelanggaran batas, termasuk ulah domba dan sapi-sapi gembala yang tidak tahu apa-apa. Militer Israel tidak pandang bulu untuk melakukan tindakan apapun demi integritas wilayahnya. Antisipasi mereka begitu ketat, terutama penduduk yang dicurigai sebagai mata-mata Hizbullah.
            Kukira Lamitta adalah ibu-ibu, sebab ketika itu dia memakai semacam kain lebar berwarna marun lusuh yang ia sampirkan ala kadarnya di kepala.
Aku mendekati Lamitta, namun dia nampak waspada. Sejarah perang telah membuat penduduk Lebanon selalu curiga terhadap kehadiran orang baru. Aku berusaha mengajaknya bicara, namun gadis itu hanya menampakkan ekspresi kebingungan. Mimik polosnya menggugah perhatianku. Kemudian Lamitta mendekatiku, mengucapkan sesuatu yang tak kupahami. Namun dari gerak-geriknya aku tahu dia mengucapkan terimakasih. Ia begitu memesonaku, kecantikan khas perempuan Mediterania, percampuran Arab dan Eropa. Sebagai bujang normal, mustahil jika aku tak terpesona. Dia ibarat mawar merah yang menyembul di tengah hamparan rumput kering.
Sejak itulah aku kerap menjumpainya di padang domba satu atau dua minggu sekali setiap melakukan patroli. Tak bisa berlama-lama juga, sebab di sini aku bertugas sebagai pasukan perdamaian, bukan untuk bertamasya.
Dari seorang rekan yang bisa berbahasa Arab, dia memberitahuku bahwa Lamitta adalah pemeluk minoritas Katolik Khaldea. Lamitta ingin sekali mengunjungi Indonesia sebab dia sangat mengidolai pasukan Garuda.
Di kalangan warga Lebanon, Indobatt memang sangat disukai karena kerap menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung. Cerita yang paling populer adalah Maryam, seorang gadis miskin dan lumpuh di desa Dier Sirien. Beberapa personel Indobatt mengunjungi rumah Maryam sambil membawakan sekotak cokelat dan sebatang lilin di hari ulang tahunnya. Tangis haru menyeruak dari keluarga Maryam. Kemudian cerita ulang tahun tersebut menyebar dari mulut ke mulut, melambungkan citra positif Indonesia di mata rakyat Lebanon.
Wajah molek Lamitta memang telah memberikan suasana segar bagi hari-hariku di negeri Kahlil Gibran ini. Aku sering mencuri wajahnya untuk kuabadikan dalam foto. Ya, betul-betul mencuri, sebab masyarakat Lebanon tak pernah suka dirinya dijadikan objek pengambilan foto. Mereka tak pernah senang dipotret, juga tak pernah setuju jika ada orang mengambil gambar rumah-rumah dan lingkungan desa mereka secara sembarangan. Pengaruh perang telah mendidik mereka menjadi orang yang selalu siaga. Mereka khawatir pengambilan gambar tersebut ditujukan untuk kepentingan intelejen musuh.
 Ponselku dipenuhi oleh rupa ayu Lamitta. Gambar-gambar inilah yang membuatku terhindar dari penyakit jenuh. Kadang rasa bosan di compound, jauh dari hiburan dan keluarga, terasa lebih mematikan daripada terkena kanker otak. Setiap malam, setiap merasa sepi, foto Lamitta selalu bisa menjadi pendamping setiaku.
Bagiku cukup dengan menjumpai Lamitta selama beberapa menit di padang domba setiap kali patroli sudah bisa membuat gundahku hilang meski komunikasi tak pernah berjalan lancar. Lamitta tidak bisa berbahasa Inggris, dia selalu menggunakan bahasa Arab, sedangkan aku tak paham sama sekali bahasa Arab. Surat Al Fatihah yang kubaca setiap haripun tak kuhafal maknanya.
            Waktu semakin merapat, hasratku untuk bertemu Lamitta semakin tak terbendung. Hari sudah beranjak sore, besok pagi aku sudah tak di sini lagi.
Dengan segala pertimbangan aku keluar compound tanpa ijin.
Escape!
Aku menemui Lamitta di padang domba sebelum matahari tenggelam. Aku ingin memberikan boneka teddy ini kepadanya. Boneka ini adalah souvenir khas Kotingen Garuda. Dua minggu yang lalu, Indobatt membagikan boneka ini gratis kepada anak-anak El Adeisse, aku menyembunyikan satu, menyisakannya untuk kuberikan pada Lamitta.
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar di atas kepala, sebuah helikopter Black Hawk milik Israel terbang melintas di sepanjang lekukan blueline ketika aku nyaris sampai di tempat Lamitta. Patroli udara Israel memang sering mondar-mandir di sekitar blueline di waktu-waktu yang tak terduga dan tak pasti. UNIFIL sudah melayangkan surat protes, namun tak pernah ditanggapi. Ibarat siswa di kelas, Israel adalah murid yang bandel.
Debu-debu beterbangan, domba-domba Lamitta tercerai berai karena suara bising pesawat yang terbang rendah, beberapa ada yang nyasar mendekati technical fence. Lamitta panik karena domba-domba gembalanya berlarian kesana kemari. Puluhan domba menerobos kawat technical fence yang di beberapa bagian memang tidak dibangun secara permanen. Domba-domba itu melakukan perjalanan internasional tanpa paspor dan visa. Tentara Israel lain yang kebetulan juga sedang patroli darat dengan kendaraan Humvee dan jip Sufa segera turun, menendang-nendang domba Lamitta agar kembali ke wilayah Lebanon dengan berang. Salah seorang tentara Israel sudah membidik kepala Lamitta.
Ah gila! Ini buruk!
Aku segera melambaikan tangan ke udara, memberikan kode agar mereka tak menarik pemicu senapan.
Tak kubayangkan jika tadi aku menunda waktuku menemui Lamitta, barangkali gadis itu sekarang sudah menjadi mayat atau menjadi tawanan tentara Israel. Tertangkap tentara Israel adalah kesuraman tiada tara, bisa dipenjara selama bertahun-tahun atau bahkan tak pernah kembali ke Lebanon untuk selamanya. Namun jika Lamitta yang tertawan, aku takut dia mendapat perlakuan yang lebih buruk yakni pelecehan seksual, sebab Lamitta, setidaknya bagiku, berwajah seperti bidadari.
            Tak ingin aku berlama-lama kontak dengan tentara Israel atau menampakkan badan secara terbuka di sekitar blueline, sebab akan membahayakan diriku sendiri, sebab kali ini aku datang bukan dalam rangka tugas, namun demi kepentingan pribadi menemui Lamitta. Aku khawatir keberadaanku akan tertangkap teropong dari pos pantau di Panorama Point. Sebelum pergi, tentara Israel memberikan semacam isyarat untuk tidak  berusaha berbuat macam-macam di sekitar blueline.
            Domba-domba Lamitta berjalan pelan kembali ke padang. Hari sudah semakin senja. Lamitta menggamit tanganku, membawaku duduk di bawah pohon zaitun yang tak terlalu rindang di atas bukit. Di salah satu titik perbatasan nampak bendera Lebanon berkibar berdampingan dengan bendera Hizbullah. Dari sini aku juga bisa melihat jelas hamparan wilayah pertanian Israel yang sudah dikelola dengan teratur, berbeda sekali dengan tanah Lebanon yang masih banyak dibiarkan terbengkalai. Para petani Lebanon masih trauma dengan adanya cluster bomb atau sisa-sisa ranjau perang yang ditabur Israel pada perang di tahun 2006. Ranjau-ranjau ini tersebar secara acak dan tidak diketahui persis kedudukannya. Jika diamati pada peta UNIFIL, maka sepanjang garis blueline di Area Operation Indobatt dipenuhi dengan titik-titik merah yang menandakan banyaknya ranjau antipersonel dan antitank. 
            Wajah Lamitta nampak lega luar biasa sebab aku datang di waktu yang tepat. Wajah paniknya tak bisa disembunyikan disertai keringat yang mengucur deras. Dia menceracau, tentu saja dengan bahasa Arab yang tak kumengerti, barangkali dia sedang menceritakan kekalutannya ketika domba-domba gembalanya berlarian tak terkendali, serta ketakutannya karena patroli Israel turun dan menampakkan perilaku seram.
Selama dia berkicau, aku hanya memerhatikan bola mata warna hazelnya yang berbinar, juga alis tebal berwarna coklat tua yang melengkung indah.  Dilihat dari sudut manapun, Lamitta memang menawan. Tak kuperhatikan ocehannya, sebab percuma saja, aku tak paham sedikitpun apa yang ia katakan.
            Aku keluarkan teddy Indobatt dari dalam ransel kecil yang kubawa. Lamitta nampak terkejut, namun senang. Dia segera menyambar boneka itu, menciuminya, lalu mendekapnya di dada. Angin semilir berhembus, hatiku turut sejuk melihat kebahagiaan Lamitta menerima pemberianku. Barangkali ini adalah boneka pertama yang ia punyai sepanjang hidup.
            Thank you,” ucap Lamitta dengan aksen Arab. Aku terkejut. Baru sekali ini kudengar Lamitta mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris.
            Can you speak English?” aku berharap lebih.
            Lamitta langsung menampakkan wajah tak mengerti. Harapanku langsung sirna seketika. Lamitta tidak bisa bahasa Inggris. Kata ‘thank you’ adalah kata yang paling mudah. Semua orang di dunia, meski ia tak pandai bahasa Inggris, juga pasti tahu kalau ‘thank you’ berarti terimakasih.
            Aku ingin sekali berbicara banyak dengan Lamitta, berbincang dengannya selayaknya teman akrab. Ingin pula aku mengutarakan segala perasaan yang kusimpan. Namun apalah daya, mendengar Lamitta berbicara malah seperti mendengar orang yang sedang merapal doa di pengajian. Andai saja Lamitta tinggal di Beirut atau Tripoli, barangkali dia bisa mendapat pendidikan yang lebih baik dan mempelajari bahasa Inggris sehingga kami tidak sama-sama kebingungan seperti sedang berhadapan dengan alien seperti saat ini.
            “Lamitta,” kupanggil namanya lirih.
Lamitta menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Ada semacam getaran. Jantungku berdebar. Jika mampu, tentu akan kubawa gadis ini pulang ke Indonesia.
            Aku terbawa dalam pesona tatapnya. Jika tak ingat kalau waktuku terbatas, pasti aku akan memilih menghabiskan malam terakhir ini bersama Lamitta saja.
            Kukeluarkan sebuah gulungan kertas. Aku menggelarnya di hadapan Lamitta.  Lamitta takjub. Aku memberikan isyarat agar Lamitta memerhatikan apa yang kulakukan. Aku berbicara sambil menulis, tak peduli dia paham atau tidak.
            “Lamitta, dengar, ini adalah peta negaraku, Indonesia. Aku dengar kau ingin pergi ke Indonesia. Lihat, aku tinggal di kota ini, kota Surabaya. Kalau suatu saat kau benar-benar datang ke Indonesia, temui aku di kota ini,” aku melingkari kota Surabaya dengan spidol, kemudian menuliskan alamat tempat tinggal dan dinasku di bagian Laut Jawa. Tak lupa aku mencantumkan alamat email. Sungguh aku tak ingin kehilangan kontak dengan Lamitta. Aku harap Lamitta hijrah ke kota sehingga dia bisa mengakrabi internet dengan lebih baik. Lebanon adalah negara maju, mustahil Lamitta akan buta teknologi seumur hidup. Aku juga berharap Lamitta benar-benar bisa datang ke Indonesia suatu saat kelak.
            Kuserahkan peta itu kepada Lamitta. Matahari sudah nyaris tenggelam, langit perlahan berubah jingga. Lamitta harus kembali pulang dengan domba-dombanya, akupun juga harus kembali ke compound untuk mempersiapkan keberangkatanku ke Beirut besok pagi.
            Aku memandangi wajah Lamitta lekat-lekat. Lamitta nampak sendu. Hidungnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Dia merangkul leherku. Aku membalas memeluknya. Dia mencium sisi kanan pelipisku. Perpisahan tanpa kata, sebab kami sama-sama tidak tahu harus mengucapkan perpisahan dalam bahasa apa agar sama-sama dimengerti.

***
           
Empat tahun sudah aku meninggalkan Lebanon. Sejauh itu, aku tak pernah mendengar kabar dari Lamitta. Apakah dia masih hidup, sudah menikah, atau malah sudah mati dibunuh tentara Israel karena domba-dombanya yang nakal menerobos technical fence. Semua serbagelap. Hanya wajah rupawannya yang masih kusimpan di memori ponsel, kuletakkan di folder terdalam, tak ada satupun yang kuhapus.
            Angin laut pantai Iboih berhembus kencang. Ikan-ikan menari di sela-sela terumbu pada kedalaman laut dangkal yang masih jernih. Sabang begitu senyap. Sunyi, namun lebih menenangkan. Belum genap setahun aku pindah tugas di ujung terbarat negeri ini.
            Matahari membiaskan jingganya di samudera, mengingatkanku pada senja terakhir bersama Lamitta di atas bukit. Kupandangi fotonya sambil tersenyum miris. Entah bagaimana aku bisa jatuh hati pada Lamitta, penggembala domba dengan kain marun lusuhnya.
            Tiitt tittt!
Ponselku memberikan tanda email masuk.

From     : mittanery@yahoo.com
To       : guntur_army@yahoo.co.id
Subjek   : hi!

Hi, Mr. How are u? I’m Lamitta. Do u remember  me, don’t u? I’m on Surabaya now. Want to meet u. Miss u badly.

Aku melotot membaca pesan di email tersebut. Benarkah ini Lamitta? Dia sedang berada di Surabaya?
Jantungku serasa loncat, masih tak percaya. Tiba-tiba aku merasa sangat gelisah. Sekejap ada pikiran aku akan segera melesat ke Banda Aceh lalu memesan tiket penerbangan ke Juanda sekarang juga. Buru-buru kutekan tombol reply. Namun dua kata pertama yang kutulis segera kuhapus.          
Kupandangi layar ponsel dengan tatapan kosong. Semacam dilematis hebat mendadak hadir dalam pikiranku. Kulihat di kejauhan wajah istriku nampak riang bermain-main di antara ombak kecil di bibir pantai. Batinku berkecamuk, seperti perang hebat yang sama-sama ingin memenangkan masing-masing pendapat. Cinta tak pernah hadir tepat waktu.
Aku memejamkan mata. Rinduku pada Lamitta telah mencapai titik tertinggi, sudah tak tertahankan.
Lamitta, akhirnya kau datang juga.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar