Tampilkan postingan dengan label Prosaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

GELAK TANGIS KELAS EKONOMI

*cerita ditulis ketika aku belum pernah naik pesawat terbang*


Tidak bermaksud narsis, namun banyak orang menilai saya adalah gadis manis. Gadis manis anak mama penurut luar biasa yang tidak pernah keluar rumah. Betulkah?
Bukan salah saya kalau dianugerahi fisik yang terlihat feminim. Don’t judge the book by it’s cover. Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat. Banyak orang terkejut saat tahu bahwa gadis ‘sekalem’ saya punya hobi mbolang kesana-kemari sendirian dengan sangat pedenya.
Ini adalah salah satu cerita saya waktu nge-backpacker ke Jogja seorang diri. Barangkali tidak masalah jika saya pergi ke Jogja dengan naik travel atau pesawat terbang yang pasti akan terlihat lebih berkelas dan elegan. Tapi terus terang, seumur hidup saya malah belum pernah naik travel, apalagi naik pesawat terbang.
Saya ingat betul, uang yang saya bawa waktu itu hanya Rp 150.000,00. Biaya ini harus saya atur sedemikian rupa untuk bisa makan selama beberapa hari sekaligus ongkos pulang. Biaya penginapan tidak menjadi beban sebab saya numpang di kos sahabat yang kuliah di Jogja.
Saya memakai sandal selop, celana jeans, jaket jumper, jilbab ringan langsung pakai, serta ransel yang berisi air mineral dan baju ganti. Melakukan perjalanan jauh tidak perlu rempong berpenampilan atau membawa barang bawaan, apalagi cuma buat naik kereta ekonomi. Semakin simple maka akan semakin mudah.
Perjalanan dimulai dari stasiun Blimbing, Kota Malang. Tidak ada jalur Malang-Jogja, saya harus transit di stasiun Kediri. Tiket Blimbing-Kediri adalah Rp 5.500,00 kala itu. Ada alasan khusus mengapa saya memilih stasiun Blimbing, sebab saya berangkat pada akhir pekan, di mana akan ada ribuan mahasiswa melaksanakan jadwal rutin mingguan pulang kampung dari stasiun Kotabaru. Jika saya naik dari stasiun Kotabaru, tentu rival saya bergelut untuk mendapat tempat duduk akan semakin banyak. Saya malas uyel-uyelan.
 Saya pilih KA Penataran pemberangkatan pukul tujuh pagi, niat saya agar kereta tidak penuh dan saya bisa lebih leluasa mendapat kursi. Stasiun Blimbing jauh lebih kecil dari Kotabaru. Dalam bayangan saya, akan banyak tempat duduk yang masih kosong. Namun ternyata angan saya nol besar. Kereta sangat penuh, bisa dibilang membludak. Saya berusaha naik, tapi tak tergapai. Kereta pelan-pelan sudah mulai bergerak. Petugas memberi pengumuman lewat corong pengeras suara agar penumpang tidak memaksakan diri dan naik kereta berikutnya saja.
Tidak bisa!
Jika saya naik kereta berikutnya, maka saya akan sampai di Jogja tengah malam buta. Ini akan sangat merepotkan. Akhirnya saya meminta seseorang menarik tangan saya agar bisa naik. Keringat mengucur deras. Dan yap! Akhirnya lantai kereta berhasil saya tapak.
 Astaga! Masih di muka pintu kereta saja saya sudah tak dapat bergerak. Overloaded!
Saya mempertahankan diri berdiri di sekitar pintu, menahan hembusan angin kereta yang melaju kencang sambil mendekap erat ransel yang saya panggul di bagian depan. Bermacam-macam bau saya hirup. Mulai dari bau keringat yang sangat masam, bau ketiak yang sangat menjijikkan, juga bau sayur dan minyak wangi yang memuakkan. Dua jam saya berdiri, hingga akhirnya ada tempat duduk kosong. Itupun sangat tidak nyaman, sebab saya duduk di samping lelaki yang begitu damainya mengebulkan asap rokok.
Akhirnya saya bisa menghirup udara segar ketika kereta menjejakkan roda di stasiun Kediri. Kereta saya selanjutnya adalah Kahuripan yang akan berangkat pukul tiga sore. Masih ada waktu sekitar dua setengah jam. Saya harus ke toilet untuk membasuh muka, rasanya tidak estetik sekali jika dilihat banyak orang dengan tampang kumal.
Setelah wajah kembali segar, saya harus mengisi perut, atau kalau tidak saya akan semaput. Berjibaku di KA Penataran telah menguras banyak energi. Saya pilih warung lesehan di halaman stasiun, di sini harga lebih murah daripada penjual makanan di dalam stasiun yang kerap pasang harga mencekik. Saya juga selalu menghindari membeli makanan yang dijajakan asongan dalam kereta. Konon, makanan yang dijual seringkali adalah makanan basi. Saya tidak tahu mitos ini benar atau tidak. Namun saya pernah sekali membeli, memang tidak basi, namun isinya sangat sedikit dengan rasa yang tidak karuan. Di lesehan, harga soto dan es degan total cuma Rp 8.000,00, nikmat dan sangat mengenyangkan.
Dua setengah jam adalah waktu yang sangat lama. Saya suka menghabiskan waktu ngrumpi dengan para pemilik warung. Hindari gengsi dalam bentuk apapun ketika sedang melakukan perjalanan. Bercengkerama dengan kakek-kakek tukang becak atau penjual bakso takkan memangkas harga diri. Pasang saja muka sok akrab meskipun tidak kenal. Jangan segan menanggapi pertanyaan atau membuka topik percakapan. Percayalah bahwa mereka bukan penjahat. Kalau tidak nyaman, lebih baik ngadem di mushola sambil men-charge HP. Sangat tidak lucu melakukan perjalanan jauh tapi HP lowbatt, pasti akan sangat membosankan.
Dan ups! Oh sebentar…
Selop saya menganga. Lem sandalnya sudah aus. Dengan jalan terseok saya mencari toko yang menjual sandal jepit. Sial sekali tidak ada. Bagaimana saya bisa berjalan dengan alas kaki seperti ini? Mau tidak mau saya harus mencari toko penjual lem super (alteco) untuk menambal selop yang sebenarnya sudah minta ganti. Kejadian ini menyentil saya bahwa ketika bepergian setidaknya saya harus membawa benda-benda kecil untuk mengatasi keadaan darurat semacam gunting, cutter, atau jarum dan benang.
Pukul setengah tiga, loket sudah dibuka. KA Kahuripan Kediri-Jogja waktu itu Rp 24.000,00. Setiap kali ke Jogja, saya selalu minta petugas untuk memilihkan tempat duduk hadap depan dekat jendela. Ini penting diperhatikan, sebab jika mendapat tempat duduk yang berlawanan dengan arah laju kereta saya sering merasa pusing dan mual. Duduk dekat jendela juga menguntungkan, selain bisa melihat pemandangan, juga bisa menyandarkan kepala ketika mengantuk. Ancaman duduk di dekat jendela biasanya adalah pelemparan batu hingga menyebabkan kaca pecah, namun saya belum pernah mengalami hal semacam ini.
KA Kahuripan menempuh perjalanan yang sangat panjang sebab pemberhentian terakhir adalah stasiun Padalarang, Bandung. Di kereta ekonomi ini saya sering menyimak banyak kisah dan cerita. Tanpa mengurangi kewaspadaan, sekali lagi tidak perlu segan berbincang dengan orang yang baru dikenal.
Kali ini di depan saya adalah seorang ibu yang gelisah. Saya lihat dia tidak membawa barang bawaan apapun. Aneh. Penumpang KA Kahuripan rata-rata akan turun di daerah Jawa Tengah atau Jawa Barat, mustahil pergi tanpa membawa tas. Matanya terlihat sembab, wajahnya nampak frustasi.
“Mau ke mana, Bu?” tanyaku mencoba bersahabat.
“Mencari anak saya, Mbak,” jawabnya hampir terisak.
Kemudian dia menunjukkan pas foto hitam putih yang sudah tak terlalu jelas. Nampak seorang remaja lelaki yang tidak terlalu jelek.
“Memang anaknya ke mana, Bu?” tanyaku lagi.
“Tidak tahu, Mbak. Sejak tiga hari dia tidak pulang.”
Ibu itu menceritakan bahwa anaknya menyandang keterbalakangan mental dan tunarungu. Dia sering bermain di sekitar stasiun. Ibu itu menduga anaknya turut bersama kereta. Yang tragis adalah Ibu itu tidak tahu anaknya terbawa kereta yang mana. Rasanya begitu terkesiap. Para penumpang yang satu blok tempat duduk dengan kami juga nampak begitu prihatin. Kemudian seorang lelaki tanggung di blok bangku seberang turut menyahut.
“Aku juga sedang mencari bapakku,” ujarnya.
“Bapakmu di mana?” tanya lelaki tua di sebelahku.
“Katanya sih di Tangerang,” jawab pemuda tanggung itu.
“Kok katanya?”
“Aku juga ndak tahu, kabar terakhir yang kudengar orange jualan bakso di Tangerang.”
“Sudah tahu alamatnya belum?” tanya lelaki tua di sebelahku lagi.
“Ndak, aku cuma tau bapak ada di Tangerang.”
Aku menghela nafas. Pemuda itu sebenarnya lugu atau bodoh. Mencari orang di kota besar tanpa memegang alamat sama saja mencari jarum di tumpukan jerami.
Lalu satu per satu orang-orang yang duduk di blok bangku ini saling bercerita dan mencurahkan isi hati. Mereka bercerita dengan tulus, berbagi kisah hidup, tentang pekerjaan, keluarga hingga kondisi ekonomi. Gelak tawa sesekali terdengar, lalu berubah sendu ketika ada yang bercerita dengan tema sedih. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh dari mereka.
Hanya di kereta ekonomilah puluhan makna-makna kehidupan bisa diambil dengan gratis. Kereta ekonomi bisa membuat saya lebih luwes memandang betapa sebenarnya saya telah diberi kenikmatan hidup tiada tara. Saya juga bisa melihat semangat sekaligus wajah lelah yang terpancar dari para asongan: bapak-bapak penjual nasi pecel, ibu-ibu penjual kopi seduh, dan seorang pemuda ganteng yang biasa jualan air mineral di sepanjang jalur Kertosono-Madiun. Inilah yang membuat saya ketagihan nge-backpaker lewat jalur kereta rakyat, sebab ada banyak hal berharga yang takkan didapat jika saya mbolang dengan travel atau pesawat terbang.

***


Rabu, 05 Desember 2012

ANTON BUKAN IDIOT



Curcol Anton Bukan Idiot menjadi salah satu kontributor pemenang dalam lomba menulis kisah Indahnya Berbagi yang diselenggarakan oleh Penerbit Oase Qalbu

Dengan usaha yang tidak begitu keras akhirnya aku lolos sebagai pengajar di lembaga bimbingan belajar ini. Ya maklum, hanya bimbel lokal, pemiliknyapun ternyata juga seorang mahasiswa yang sedang belajar bisnis. Namun senang sekali rasanya, akhirnya hidupku tidak hanya sebatas kuliah dan kos-kosan, aku bisa belajar mengajar, memanfaatkan ilmu yang kudapat di kampus. Bosku bernama Given, perempuan etnis peranakan Cina. Meskipun pemeluk Budha, tapi dia sangat menghormatiku sebagai muslim.
Aku mengajar bocah-bocah SD, mencakup semua mata pelajaran, padahal bidang asliku adalah bahasa Indonesia. Ah, diterima saja sudah untung, sebab hampir semua bimbel tidak menerima pengajar dari jurusan bahasa Indonesia. Kebanyakan kalau tidak bahasa Inggris ya hanya bidang ilmu-ilmu eksak. Aneh, padahal pada ujian nasional, nilai yang kerap anjlok justru di bahasa Indonesia. Hanya di Indonesia, masyarakat sering meremehkan bahasa sendiri, dianggap tak penting, dianggap setiap hari sudah ngomong bahasa Indonesia, tak perlu lagi dipelajari.
Nama bimbel ini Brilliant. Tidak akan didapati ruang yang nyaman dan representatif seperti bimbel-bimbel yang sudah tersohor di Indonesia. Given membuka lapaknya di salah satu kampung kecil. Dia menyewa satu ruangan di rumah milik pamannya sebagai kelas. Ya, hanya satu ruangan. Lesehan. 
Ini hari pertamaku. Murid-murid telah datang. Hanya empat orang. Itupun hanya anak-anak kampung sekitar. Salah seorang yang menarik perhatianku adalah Anton. Nama lengkapnya Anton Subekti. Menurutku itu adalah nama yang cukup keren bagi anak yang tinggal di daerah kecil seperti ini. Sekilas kupandangi perawakannya, terlalu biasa, dengan warna kulit coklat gelap dan kusam, efek terlalu sering bermain di bawah terik matahari.
Aku menyapanya dengan riang, namun dia membalasku dengan tatapan aneh, semacam ada ekspresi cuek, takut, namun tetap siaga waspada terhadap orang asing. Dia diam, tak mengeluarkan sepatah katapun, tenggelam asyik bermain motor-motoran plastik yang sepertinya hadiah dari jajanan chiki yang sedari tadi dipeganginya.
Anton masih kelas dua, salah, seharusnya sudah kelas lima SD. Dia sering tinggal kelas karena bodoh. Ya, setidaknya itulah sekilas informasi yang kudapat dari Bayu dan Senja, dua anak lain yang sedang kuajar. Sedangkan dari Given, dia hanya memberitahuku bahwa Anton memang lambat belajar.
Learning disability?
Given menggeleng. Bukan karena dia tahu apa yang terjadi, tapi karena dia memang tidak tahu menahu soal Anton. Ah tentu saja, Given kuliah di jurusan manajemen, mana dia tahu soal beginian. Yang dia tahu hanyalah dia mengelola bimbelnya dengan baik, urusan anak didik dia serahkan kepada pengajar. Given hanya tahu orangtua Anton mendaftarkan anaknya di Brilliant agar Anton bisa belajar dengan baik dan naik kelas dengan nilai bagus.
Aku semakin terkejut. Anton tidak bisa membaca, padahal untuk usia seperti Anton seharusnya dia sudah mampu membaca novel anak-anak. Pantas saja ketika kusuruh mengerjakan soal dia tak bergerak sedikitpun. Padahal sudah kupaksa, bahkan sempat kubentak, karena sedari tadi dia hanya diam, bahkan terus saja bermain dengan mainan motor plastiknya.
Lalu bagaimana sekolah Anton selama ini? Bagaimana dia mengerjakan tugas? Bagaimana dia bisa mengerjakan ulangan? 
Aku dekati Anton, kulihat bukunya. Dia bisa menulis. Tulisannya kacau, tegak bersambung dan tidak proporsional. Dia menyerahkan LKS IPS kepadaku, memintaku membantu mengerjakannya. Aku mengangguk, meskipun aku harus membantunya dengan cara yang kurang wajar sebagai pengajar. Aku memberitahu jawabannya mentah-mentah─sesuatu yang sebenarnya selalu kuhindari karena membuat murid tidak mau berpikir dan kreatif─,  lalu membimbingnya mendikte setiap huruf dari jawaban itu. Waktu mendadak berjalan lambat. Sudah kudikte dengan jelas, namun Anton masih saja salah menulis huruf. Dia sering menghapus tulisannya, membuat LKS nya begitu kusam dan kumal. Rasanya sungguh jengkel karena harus mengejakan huruf untuknya berulang-ulang. 
Aku berbincang dengan Given, menanyakan riwayat belajar Anton.
“Dulu dia pernah didaftarkan orangtuanya di Sekolah Luar Biasa, tapi dia ditolak karena Anton dinilai normal dan tidak menyandang cacat. Itulah mengapa sampai saat ini dia tetap belajar di sekolah umum,” terang Given seadanya.
Aku mengangguk. Anak itu memang lambat dalam belajar. Butuh perhatian ekstra, apalagi dia sudah berkali-kali tinggal kelas.
Kubuka textbook psikolinguistik. Tak salah lagi, Anton menderita disleksia. Semua ciri-ciri sudah menempel padanya. Tidak bisa mengeja, menulis tanpa spasi, perhatian mudah teralih, sulit berkomunikasi, dan lain sebagainya.
Hari-hari selanjutnya aku lebih memerhatikan Anton. Bayu, Senja dan Atika sudah cerdas, jadi lebih gampang dikendalikan. Namun Anton tidak. Dia harus belajar benar-benar mulai dari awal. Kugunakan waktu untuk mengajari Anton mengeja huruf, lalu menulis namanya sendiri. Rasanya memang jauh berbeda ketika harus mengajari anak yang tidak memiliki gangguan serupa disleksia. Hanya untuk menulis ‘Anton’ saja membutuhkan waktu hampir setengah jam.
Di hadapan Anton mendadak aku merasa menjadi orang yang sangat berguna. Padahal sebelumnya aku merasa hidupku sangat datar, aku tidak terlalu pandai di kampus, juga tidak mempunyai prestasi yang bisa dibanggakan. Tapi ketika membantu Anton belajar, aku merasa mendapat kepuasan batin yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Aku memang tak bisa memberikan apa-apa untuk Anton, tapi setidaknya aku tahu kalau dia menderita disleksia, sehingga orangtua Anton tahu kalau anaknya bukanlah anak bodoh atau abnormal.
Hanya inilah yang bisa kuberikan pada Anton. Bukan uang, atau mainan mahal, tapi hanya bisa mengajarinya mengeja, membaca dan menulis huruf. Aku harap ketika sudah dewasa Anton tidak rendah diri dengan kekurangannya ini. Bukankah Thomas Alfa Edison, Walt Disney dan Tom Cruise juga penderita disleksia?
Benar apa kata Christopher McCandless: happiness is only real when shared. Kebahagiaan itu ada jika kita mau berbagi.
***

ADANDI ADINDA

Cerpen ADANDI ADINDA meraih juara 3 Lomba Menulis Cerpen tema Luka Hati yang diselenggarakan Penerbit Pustaka Jingga


ADANDI ADINDA
oleh: ENDAH WAHYUNI
 
Usiamu sudah memasuki bulan kesembilan di dalam janin. Ibumu tak henti-hentinya mencurahkan kegelisahannya pada ibuku. Kau semakin kuat menendang, sementara aku lebih suka diam karena tak ingin membuat ibuku kesakitan. Kubilang jangan nakal, namun kau tak mau mendengarku dan lebih suka menyusahkan ibumu.
Suatu hari di teras depan, ketika ibumu dan ibuku sedang berbincang tentang kerinduannya menanti kita, kau semakin kuat menggeliat. Ibumu merasakan kesakitan luar biasa. Ibuku kebingungan dan segera berteriak. Ayahmu bergegas datang, memapah ibumu ke dalam mobil menuju pondok persalinan.
Kau hadir ke dunia dengan tangis yang sangat keras. Tawa haru menyeruak. Semua gembira menjemputmu. Kau tampan sekali. Aku iri. Aku juga ingin segera muncul menatap langit dan matahari. Ibumu turut mengelusku ketika ibuku menjenguknya. Sepertinya ibumu juga tak sabar menyambut hadirku. Tapi waktu belum mengijinkanku keluar dari rahim yang gelap ini.
Di dalam rahim ini aku sendiri. Kau sudah terlebih dulu pergi. Pergi ke dunia baru di mana kau bisa melihat pelangi. Tiada lagi teman yang kubisa ajak berbagi hati tentang ketakutanku di sini. Aku takut tak bisa melewati lorong lahir sesukses dirimu. Aku tak mau jika perut ibuku harus dilukai dengan pisau bedah cesar. Aku ingin lahir sepertimu. Berjuang bersama ibu demi membuat sekeluarga lega dan gembira akan kehadiranku. Hei, aku merindukanmu. Sekarang kau sudah punya nama. Namamu Adandi.
Lima puluh delapan hari setelah kelahiranmu, kurasakan pula sudah tiba giliranku untuk menyusulmu. Aku menendang memecah ketuban. Ibuku meringis kesakitan seperti ibumu dulu. Kata bidan posisiku sungsang. Aku menangis, aku sedih karena membuat ibuku merasa tak nyaman. Aku merasa semakin pengap. Energiku perlahan habis untuk mengeluarkan diri dari lingkaran panggul ibu. Keringat ibu mengucur deras. Ibumu menemani ibuku, membiarkan tangannya diremas dengan gemas, sementara kau berada di luar digendong ayahku, sebab ayahmu sedang pergi keluar kota. Ayahku tak sanggup melihat darah. Aku tahu kau juga cemas dengan keadaanku. Sesekali kau mengowek keras, memberikan semangat kepadaku agar tetap bertahan pada kondisi yang sudah kian ganas.
Ini semua berkat Tuhan, setelah tiga jam berjuang akupun terlolos. Nafasku tersengal. Susah sekali menjeritkan tangis untuk menyiarkan pada keluarga bahwa aku telah datang ke dunia.
Setelah dibersihkan, keadaanku pun jadi lebih baik. Sekarang kita telah bersama lagi. Ibumu mendekatkanmu padaku yang masih telanjang hendak diganti pakaian dengan selimut tebal. Kau menyambutku dengan senyum, menautkan jari-jari kecilmu pada jariku yang masih begitu lemah. Senang sekali bisa berjumpa lagi denganmu di ranjang rumah sakit ini. Lima puluh delapan hari tak berjumpa, kau nampak semakin tampan saja. Matamu berbinar dengan kulit yang sudah kencang dan cemerlang dengan wangi cologne bayi yang begitu wangi, sementara aku masih nampak merah jambu dan keriput di sekujur kepala hingga kaki. Ayah memberiku nama Adinda.
Setahun sejak kelahiran kita, Ibumu selalu membawamu bermain ke rumahku. Ibuku selalu senang menyambut sebab aku bisa bermain denganmu setiap waktu. Tapi kau suka nakal. Kau kerap merusak rambut bonekaku, membuatnya nampak  begitu jelek dan kusut bagai lilitan tali putri di tanaman kemuning yang perdu. Setiap kali berhasil merusak mainanku, kau selalu tergelak puas. Kau juga sering menghabisi bubur pisang susuku hingga tandas. Aku kesal. Suatu kali aku yang ganti berbuat cela. Kupatahkan tangan mainan robotmu. Kau menangis. Ibuku memarahiku karena menghancurkan robot mini kesayanganmu. Menyebalkan sekali.
Tapi kita tak pernah lelah bercanda. Semenjak kita berdua hadir ke dunia, kita selalu menempuh pelajaran bersama. Berdua kita belajar mengunyah, tengkurap, duduk, hingga belajar merayap. Kau nampak lebih gesit, sementara aku masih saja takut-takut dan menciut. Kau bahkan sudah mengajakku berlari, sementara aku belum mampu kokoh menjejakkan kaki.
Tiga tahun sejak kelahiran kita, kau mulai menampakkan prestasimu. Aku bahagia sekali saat kau pulang dengan membawa piala babystar. Kau memang sangat enerjik sejak dalam rahim. Semua orang gemas padamu, selalu ingin mencubit pipimu. Rasakan! Memangnya enak jadi selebriti.
Kau selalu mengeluh padaku karena pipimu lebam dijawil ratusan  jari. Aku mendengar kesahmu dengan sendu. Kau selalu senang waktu tanganku mengelus untuk meredakan nyeri di pipimu. Setelah sakit berkurang, kau selalu mengajakku memainkan tuts-tuts piano dengan nada yang sangat berantakan. Berisik sekali, membangunkan ayahmu yang sedang beristirahat siang di dalam kamar. Kita juga suka mengobok-obok akuarium, berusaha menangkap ikan emas yang selalu berusaha kabur dari usaha jerat cengkeraman tangan-tangan kecil kita, hingga akhirnya ikan itu mati karena terlampau depresi.
Lima tahun sejak kelahiran kita, ibumu dan ibuku mendaftarkan kau dan aku pada sekolah yang sama, di sebuah taman kanak-kanak yang tak jauh dari tempat tinggal kita. Setiap pagi kau selalu datang ke rumahku, menjemputku terlebih dahulu lalu berangkat bersama dengan jalan kaki. Kau selalu memilih posisi dekat jalanan, dan membiarkanku berjalan di sisi tepian. Kau bilang agar aku aman kalau-kalau ada motor atau sepeda yang sedang melaju kencang.
Ketika aku sesak dan panas tinggi, kau pun tak pernah mau pergi dari kamarku. Kau temani aku, menghiburku dengan tingkah lucu, hingga kau sering turut terlelap di ranjangku. Saat itulah ayahmu datang, menggendongmu pulang agar kau bisa beristirahat di tempat tidurmu.
Katamu juga, kita berdua harus kompak dan melengkapi. Kau selalu memintaku membawa bekal makanan, lalu kau yang membawa bekal minuman. Aku menurut. Ibuku memang lebih pintar memasak daripada ibumu. Setiap hari ibu selalu bersenang hati menyediakan bekal untukku agar dibagi bersamamu ketika makan siang.
Di sekolah, kita duduk sebangku. Kau yang selalu mengajariku mengeja dan membaca. Kau juga yang selalu membantuku belajar berhitung. Kau memang anak pintar. Selalu dipuji guru. Aku senang kau sudah tidak nakal lagi seperti waktu masih bayi.
Kau juga selalu membelaku. Tiap ada kakak dari kelas nol besar yang ingin merebut bekal kita, kau selalu menghadapinya dengan gagah berani. Kau pernah berkelahi, hanya untuk melindungiku dari kejahilan kakak nol besar yang menakutiku dengan anak kodok menjijikkan dan bikin geli. Ketika  aku menangis, kau selalu merangkulku, menghiburku bahwa keadaan sudah damai dan terkendali. Setelah itu, kau mengajakku main ayunan. Kau menyuruhku duduk, sementara kau yang mendorong dari belakang pelan-pelan.
Tujuh tahun sejak kelahiran kita, ayahku dan ayahmu sepakat bahwa kita harus tetap sekolah di tempat yang sama. Kali ini sekolah kita lebih jauh, tak bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Namun kau selalu berbaik hati menjemputku dengan sepeda, memboncengku setiap pagi dengan ceria tanpa merasa lelah. Ibumu dan ibuku senang melihat kita selalu rukun dan bersahabat. Aku lebih senang sebab kau tak pernah meninggalkanku, juga tak pernah sekalipun berbuat iseng maupun jahat.
Semakin banyak tahun yang kulewati denganmu. Prestasimu semakin gemilang dan tak bisa dihitung jari. Semua mengidolaimu, semua ingin mengenal dan dekat denganmu. Aku semakin bangga karena kau menjadi bintang yang tak pernah mati. Bagiku kau adalah matahari, tanpamu aku takkan pernah bisa menapak sekuat ini. Kau yang selalu menjagaku, bagai pagar yang selalu melindungi bunga dari serangan kurcaci.
Kita tumbuh dewasa bersama, hingga akhirnya kukenal rasa cinta. Setiap hari kau yang selalu bersamaku, setiap hari pula bibit-bibit rasa kasih itu tumbuh bagai darah di aliran pembuluhku. Rasa ini rapi kupendam ribuan hari sebab kau terlanjur menjadi selebriti. Terlalu banyak yang menaruh hati. Tak ada seorangpun yang tak kenal Adandi, sang idola dengan sepuluh juta pesona tak tertandingi.
            Hari ini adalah ulang tahunmu yang ke-25. Kau menjadi sosok lelaki terkenal dan dikagumi. Semenjak menyelesaikan S2 di Qatar dan menulis buku dengan tiras penjualan tertinggi, kau semakin tak dapat kugapai. Perasaan ini masih saja kusimpan seiring denyut nadi. Berharap kau tahu, namun selalu enggan kukatakan, hingga akhirnya akupun harus kehilanganmu sebelum sempat bersama menapaki jalan.
            Besok kau akan menikahi seorang tuan putri. Tuan putri yang begitu jelita. Selaras sekali dengan pesonamu yang tak juga ada matinya. Hatiku pedih, sebab kuharus melepas cinta yang sudah begitu rapat mengumpul sebanyak buih.
Di teras rumah ini kau dan aku duduk bertatap muka. Teras rumah di mana ketika itu ibumu pertama kali merasakan kontraksi kelahiranmu. Di muka kita adalah halaman tempat kita pernah membangun rumah pasir dengan gelak khas kanak-kanak.
Aku galau melihatmu tepat di hadapanku. Kukenang masa kecil kita di kala lampau. Kupandangi pipimu yang dulu sering kuelus untuk menawar ngilu cubitan penggemar yang menderu. Namun kini semua kemesraan itu seakan lewat begitu saja seperti terburu. Waktu begitu cepat berlalu sementara aku bahkan belum sempat memberimu bunga untuk memberitahukan rasa kasihku padamu.
“Besok kau sudah resmi jadi suami…,” kataku lirih membuka percakapan.
Kau mengangguk dan tersenyum. Nampak rona bahagia, sekaligus simpanan rasa gundah yang tak mampu digubah.
“Kau benar,” jawabmu singkat, begitu datar.
Gelisahku semakin menjadi. Hatiku kembang kempis menahan semacam amarah dan benci sebab kau akan membangun istana baru, merobohkan rumah pasir yang dulu pernah kubuat bersamamu.
“Selama ini kau yang selalu menjagaku. Besok kau sudah tak bisa lagi menjadi pelindungku, ada orang lain yang lebih wajib kau lindungi,” suaraku bergetar. Aku mulai tak bisa menyembunyikan gejala tumpahnya airmata.
Kau lurus menatap wajahku, melihat kedua bola mataku dengan begitu dalam. Lalu kau merangkul leherku. Aku membalas. Airmata ini satu per satu leleh dengan sangat deras. Aku tak ingin melepasmu, sungguh aku tak sanggup membiarkanmu bersanding dengan tuan putri. Hatiku cedera. Mirip sebentuk pipi yang digores silet-silet baja.
“Aku sayang padamu, Adandi,” akhirnya kata itu keluar di antara dekapan meskipun sudah sangat terlambat untuk diucapkan.
Langit berona kelabu. Setitik gerimis jatuh, lalu disusul rintik-rintik berikutnya, semakin banyak, semakin menderas menit demi menit. Kau dan aku masih terus berangkulan, mengolah waktu tersisa kita berdua sebelum esok janji suci dihelat megah. Jantungku semakin sakit membayangkan. Aku tak tahan. Lalu pelan-pelan kuhunus belati tajam dari sarangnya, begitu pelan, begitu senyap, hingga ia menancap tepat di ulu hatimu, merembeskan merah segar memenuhi baju putihmu. Kau menggelepar.
Kau adalah cinta pertama, cinta yang telah kumulai semenjak kita dalam rahim bunda. Kau adalah dendam dan kasihku yang bersegel rahasia. Kau dan aku hanya Adandi dan Adinda, takkan pernah satu, tetap menjadi dua. Cintaku terlalu dalam menembus jurang. Aku luka. Aku takkan pernah rela kau dicumbu bidadari atau tuan putri dari penjuru manapun. Lebih baik aku membunuhmu, biar tak ada yang dapat menyentuh dan menikmatimu dengan leluasa.
Dan kini kau hanyalah seonggok mayat.***