Tampilkan postingan dengan label Curhat Colongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Colongan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2014

CHOCO TIME

Hari ini gue galau.
Laki gue udah balik lagi ke Makassar setelah tiga minggu pulang ke pelukan. Tadi pagi gue nganterin dia ke DAAU Lanud Abdul Rachman Saleh. Mata gue ijo (dalam artian sebenernya). Soalnya entah mengapa di sono mendadak banyak tentara dari Kostrad. Slentang-slenting sih pada mau terbang ke Jakarta.

Karena di rumah kagak ada orang, hang outlah gue nyari cemilan. Gue rada-rada penggila pastry gitu deh. Suka banget sama kue-kue lucu yang manis-manis. Sejenak gue harus memaksa diri untuk amnesia sementara sama lemak di tubuh gue yang udah mbleber ke mana-mana.

Gue beli Cannoli. Kue Cannoli ini sebenernya adalah desert khas Italia. Bentuknya lonjong mirip hotdog. Topingnya itu semacam kayak kerupuk gambir yang diancurin sama choco chips. Di tengah-tengahnya ada krim warna putih. Ketika digigit, di dalamnya ada krim cokelat. Manisnya pas. Dan nggak bikin eneg.

Foto: dokumen pribadi

Jumat, 10 Januari 2014

IF I WERE YOU... (aku takkan sekuat dirimu)

Sebelumnya gue mau ngucapin naudzubillahi min dzalik dulu. Gue harap laki gue nggak akan pernah sekalipun kesenggol kasus-kasus korupsi, gratifikasi, dan segala macem yang berbau aliran duit haram.

Jum'at pun makin keramat. Hari ini akhirnya Anas Urbaningrum masuk sangkar setelah hampir setahun kasusnya nggantung nggak jelas. Entah mengapa gue ngeliat Om Anas ini agak lebay dan terlalu ulet. Gue inget tempo hari Om Anas nolak dateng ke KPK gegara surat perintah yang dilayangkan dirasa kurang sreg di persepsinya. Ini kejadian baru pertama kali semenjak puluhan koruptor yang diusut KPK nggak pernah mikirin soal redaksional surat panggilan. Entah karena Om Anas yang terlalu ribet dan perfeksionis, atau emang koruptor lain yang emang nggak terlalu care sama tata bahasa.



Rabu, 08 Januari 2014

CINTAKU PADAMU DALAM SOTHIL AJAIB




Suami ulang tahun tapi pas honor gue belum turun emang bikin depresi. Mau beliin barang bagus apa daya dompet tak sampai. Tapi... meskipun lagi punya banyak duit, gue rada bingung juga mau ngasih kado apa yang pastinya nggak mainstream. Ngasih suami arloji, kemeja, atau makan enak di luar bagi gue emang udah agak out of date. Ngasih doa aja rasanya juga keterlaluan banget. Secara, laki gue udah sukses melihara gue sepenuh hati dan nggak pernah pakek itung-itungan. Apa yang dia punya selalu dia kasih ikhlas semuanya ke gue. So, I need more fresh ideas.

Senin, 31 Desember 2012

WAKTU AKU NONTON HABIBIE DAN AINUN


Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita


Film Habibie dan Ainun bagi gue adalah drama terbaik Indonesia yang pernah gue tonton. Film ini berhasil membuat gue terisak termehek-mehek di dalam bioskop. Gue kesel setengah mati karena nggak bisa menikmati film sebagus ini sama suami. Kalo aja suami duduk di samping gue ketika itu, tentu gue bakal langsung memeluk dan menciumnya di akhir cerita.

Gue terhenyak, emosi gue meningkat drastis selama durasi tayangan. Bukan karena akting Reza dan Bunga yang memukau, tapi gue nggak nyangka jalan hidup Habibie dan Ainun banyak banget yang mirip sama kisah gue dan suami. Contohnya ekspresi gusar Ainun ketika pertama kali naik pesawat terbang, dan ketika akhirnya mereka bercanda cubit-cubitan di dalam pesawat, itu pula yang gue alami ketika gue pertama naik pesawat terbang ikut ke tempat dinas suami.

Rabu, 19 Desember 2012

BACKPACKING BERSAMA HERCULES

Tampilan luar Hercules (dengan kualitas foto superlow). Maafkeuunn T_T
Melakukan perjalanan dengan pesawat Hercules adalah pengalaman yang takkan pernah saya lupakan seumur hidup. Pesawat ini sungguh cetar membahana halilintar badai. Suwerrrrr! Saya tidak bohong!

Selasa, 18 Desember 2012

BAJU DALAM ALMARI

Saya baru benar-benar sadar bahwa lelaki dan perempuan memang diciptakan dengan karakter yang sangat berbeda.

Cerita ini saya angkat saat moment packing bersama sauami ketika kami akan berangkat ke Sabang.

Saya akui, sebagai perempuan saya cenderung stylish. Saya tidak suka jika harus memakai baju yang sama dalam moment yang berbeda dalam jangka waktu yang berdekatan. Suami sudah mengultimatum agar saya efisien membawa barang pribadi karena saya di Sabang hanya untuk sebulan. Saya dan suami memang sepakat hanya akan membawa satu koper ukuran kecil agar bawaan kami tidak menggunung seperti kuli angkut. Ini adalah perjalanan separuh negeri, ogah banget kalau kesana-kemari dorong-dorong bejibun tas.

Saya sudah berusaha memilah baju yang memang akan benar-benar terpakai ketika berada di Sabang: baju santai, baju tamasya, baju silaturahim hingga baju untuk menghadap Ibu Komandan. Saya yakin seratus persen kalau saya sudah menghemat bawaan secara besar-besaran. Tapi ternyata tidak sama sekali!

Duabelas potong pakaian (belum termasuk bra, handuk dan celana dalam) ternyata sukses membuat koper kami menggembung. Suami menyuruh saya untuk memangkas lagi jumlah pakaian, tapi saya ngotot bertahan  bahwa jumlah tersebut sudah sangat sedikit. Setelah perang mulut beberapa menit soal keefisienan dan tata ruang dalam koper, akhirnya suami mengalah. Jumlah pakaiannya yang akhirnya direduksi padahal bawaannya sendiri menurut saya sudah sangat minimalis.

"Dasar wanita!" gerutu suami saya, kelihatan jengkel setengah mati.

"Jangan samakan cewek sama laki dong!" saya tak kalah sengit.

Urusan koper akhirnya beres. Semua sudah masuk. Namun ternyata saya lupa belum memasukkan barang-barang 'kewanitan' lain yaitu sepatu, tas jalan, kotak make up dan kotak peralatan mandi.

Suami saya pun langsung teriak histeris!

***

Itulah, kadang saya heran mengapa laki-laki tak pernah rempong membawa barang bawaan ketika bepergian, hanya cukup satu ransel berisi dua potong baju mereka sudah bisa menikmati perjalanannya. Coba bandingkan dengan wanita, kadang sudah membawa dua koper pun masih merasa belum cukup dan khawatir akan modisless ketika berada di lokasi. Kasus ini mirip jumlah pakaian dalam almari. Laki-laki akan merasa santai saja meski cuma punya beberapa pakaian, sedangkan wanita meski sudah punya koleksi baju lemari masih saja tak merasa pakaian memadai.



Jumat, 07 Desember 2012

SEORANG DOSEN YANG JAHAT


Aku mempunyai seorang dosen, kebetulan beliau juga merupakan dosen pembimbing akademikku. Di kampus, bisa dibilang dia adalah dosen senior.

Pada suatu ketika, kelompok anak yang berada dalam perwalian beliau meminta tandatangan semacam surat dari fakultas. Kami menulis nama dan gelar beliau dengan benar, yaitu: Prof. Dr. (nama beliau), M. Pd. Tapi ternyata kami ditolak dengan alasan penulisan namanya tidak benar. Apanya yang kurang? Ternyata kami tidak menyertakan gelar haji. Akhirnya kami mengubah penulisan nama dan gelar sesuai permintaan beliau menjadi: Prof. Dr. H. (nama beliau), M. Pd.

Sungguh, aku langsung ngrasa mak kluthik mak keciprut gituuhh (-____-')

Aku sadar, beliau memang sangat senior, bisa dibilang profesornya para profesor di kampusku. Tentu saja, kemampuan beliau sudah tidak diragukan. Namun sayangnya, beliau tidak menggunakan ilmu padi.

Sebagai dosen pembimbing akademik, aku merasa dongkol setengah mati bersama beliau. Beliau adalah satu-satunya dosen yang nggak mau di-sms atau ditelepon jika kami ada perlu. Beliau bilang, hal kayak gitu adalah tindakan yang tidak sopan. Kami harus datang langsung ke kantor. Aku nggak habis pikir, datang tanpa janji dan konfirmasi dulu, apakah itu enak? Tak jarang kami harus menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu kedatangan beliau di kantor. Sungguh, banyak waktu terbuang hanya untuk menghormatinya. Aku iri dengan teman-teman lain yang mempunyai dosen PA begitu gaul dan akrab layaknya teman, yang di sms atau ditelepon kapan saja selalu welcome.

Bukan hanya itu saja, beliau juga mengklaim dirinya adalah Jenderal. Merasa sudah punya pangkat tertinggi sebagai profesor. Pokoknya cempaling bangetlah.

Bukannya beliau nggak ada sisi baiknya. Ada kok. Beliau sering menasehati kami dengan wejangan-wejangan baik, juga membagi pengalaman-pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran. Tapi entah mengapa, setiap kali beliau membuka mulut, yang ada adalah riya' dan kesombongan. Mungkin maksudnya ingin membuat kami termotivasi, tapi kami malah merasa mual tingkat dewa. Cerita-ceritanya selalu diulang, tentang sudah berapa kali beliau naik haji, tentang mobil apa yang beliau miliki, tentang ibadah-ibadah apa yang beliau lakukan, tentang merk baju dan arlojinya, juga tentang jabatan serta pangkatnya tersebut.

*sumpah, pengen banget njepret ni orang pakek ketapel burung rawwrrr* >:[

Di kelas, beliau cenderung menciptakan jarak yang begitu jauh dengan mahasiswa. Beliau selalu ingin mahasiswa tunduk pada aturan mainnya. Jaga image-nya sungguh terlalu sekali. Beliau juga tidak segan-segan mengkritik dan mempermalukan mahasiswa di depan umum. Sebagai orang yang berpendidikan, seharusnya beliau tahu bahwa menjaga nama baik seseorang itu sangat perlu, meskipun itu hanya seorang mahasiswa yang nggak punya gelar apa-apa. Apalagi sebagai haji, tentu beliau lebih paham tentang bab menutupi aib. Setiap orang mempunyai hak untuk dihargai dan dihormati, tapi beliau bersikap bak superpower. Jika ingin mengkritik dan mempermalukan seperti itu, harusnya tidak di depan umum, tapi berbicara secara privat. Sungguh, setiap kali berada di kelasnya, yang ada hanyalah tekanan batin. Rasanya seperti terintimidasi, kami takut berpendapat, sebab kami sering di-skak mad dengan sangat keras. Beliau seolah menerapkan prinsip: profesor akan selalu benar!

*modddyaaarrrrr kon!!!*

Sungguh rasanya patah hati sekali. Dulu aku sempat mengira beliau adalah orang yang bijak dan berkharisma. Ternyata beliau adalah pembunuh berdarah dingin. Aku jadi bertanya: untuk apa puluhan kali berhaji, jika ternyata gumpalan riya' njendol di otak dan hati beliau dengan sangat tebalnya? Untuk apa dia menjadi profesor jika kini yang ada hanyalah kesombongan yang begitu jelas? Ya Allah, apakah orang seperti ini nantinya juga akan masuk surga? Beliau sempurna menjalankan lima rukun Islam-Nya, tapi kok gitu?

Ada lagi contohnya. Sabtu malam lalu, aku datang ke kantor polisi, menemani adik kos melapor karena motornya baru saja hilang. Setelah dibuatkan laporan, kami disuruh masuk ke kantor reserse untuk diinterograsi sebentar. Bukannya diselidiki, tapi kami malah menonton drama antara atasan dan bawahan. Aku bisa langsung lihat, atasan tersebut memang saklek banget. Kata-katanya menunjukkan superioritas yang sangat tinggi. Melihat gayanyapun aku juga langsung mual. Atasan itu bentak-bentak aku dan adik kosku, memperlakukan kami seolah maling. Kemudian bawahan mengingatkan atasan dengan halus agar memperlakukan kami sewajarnya sebab kami adalah korban. Tapi ternyata atasan malah nyolot. Jan huufttt... (-____-')

Aku punya lagi satu contoh (tapi tolong jangan pernah ditiru). Aku punya seorang teman, kebetulan dia anak pejabat. Pada suatu ketika kami terlibat selisih perdebatan. Aku berusaha mengingatkan agar dia nggak terlalu bangga sama pacar dan orangtuanya. Aku sudah fair, minta maaf sebelumnya, eh gak taunya dia malah makin gila. Dia bilang: "kowe ki anake sopo?"

Gluddak! Yah, sekedar mengingatkan. Sumpah, nggak maksud menggurui. Di akhirat kelak, kita nggak akan ditanya kita ini anak siapa dan dari keturunan mana. Bisa jadi kita dari keturunan buruk atau tak terpandang, namun akhirnya kita mau berusaha keras hingga akhirnya menjadi pribadi mandiri yang baik. Lebih baik seperti itu, daripada punya keturunan baik tapi dipakai untuk mencela orang lain.

Di lain orang, aku juga pernah diajar dosen yang menurutku top banget. Beliau masih muda, sekitar 30 tahunanlah kira-kira. Beliau adalah doktor bahasa Inggris dari universitas terkemuka di Amerika. Tapi jangan harap kamu akan melihatnya berpenampilan rapi dan wangi. Tiap masuk kelas, beliau udaludul jeblas-jeblus gitu aja dengan sepatu butut, jaket kulit yang sudah pecah-pecah, rambut gondrong berminyak yang diikat dengan karet gelang warna kuning, serta hp butut banget. Kesan pertama adalah: TUKANG OJEK.

Akhirnyaaaaa, aku jadi bener-bener tahu apa itu riya' dan apa itu zuhud. Ilustrasinya sudah sangat nyata dan jelas di depan mata.

**********

Dalam hidup kita pasti adalah yang namanya bangga, pamer dan sombong. Munafik kalo kita nggak pernah bersikap seperti itu. Tapi semoga jangan sampai takabur dan lupa diri. Di atas langit masih ada langit :D

Aku pernah menuliskan sesuatu untuk sahabat baikku dalam sebuah video amatir:
Orang lain boleh menjadi MATAHARI, menjadi BULAN atau menjadi BINTANG, tapi kamu tetaplah menjadi BUMI, dicinta karena bersahaja, dihormati karena kerendahan hati.

Semua yang ada di dunia ini hanya titipan. Pangkat, jabatan, kekayaan, ilmu, semua adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Semoga semua hal tersebut menjadi timbangan berat untuk masuk surga, bukan sebagai timbangan berat untuk masuk neraka.

MARI MENJADI ORANG YANG LOW PROFILE HIGH PERFORMANCE \(^^,)/


GELAK TANGIS KELAS EKONOMI

*cerita ditulis ketika aku belum pernah naik pesawat terbang*


Tidak bermaksud narsis, namun banyak orang menilai saya adalah gadis manis. Gadis manis anak mama penurut luar biasa yang tidak pernah keluar rumah. Betulkah?
Bukan salah saya kalau dianugerahi fisik yang terlihat feminim. Don’t judge the book by it’s cover. Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat. Banyak orang terkejut saat tahu bahwa gadis ‘sekalem’ saya punya hobi mbolang kesana-kemari sendirian dengan sangat pedenya.
Ini adalah salah satu cerita saya waktu nge-backpacker ke Jogja seorang diri. Barangkali tidak masalah jika saya pergi ke Jogja dengan naik travel atau pesawat terbang yang pasti akan terlihat lebih berkelas dan elegan. Tapi terus terang, seumur hidup saya malah belum pernah naik travel, apalagi naik pesawat terbang.
Saya ingat betul, uang yang saya bawa waktu itu hanya Rp 150.000,00. Biaya ini harus saya atur sedemikian rupa untuk bisa makan selama beberapa hari sekaligus ongkos pulang. Biaya penginapan tidak menjadi beban sebab saya numpang di kos sahabat yang kuliah di Jogja.
Saya memakai sandal selop, celana jeans, jaket jumper, jilbab ringan langsung pakai, serta ransel yang berisi air mineral dan baju ganti. Melakukan perjalanan jauh tidak perlu rempong berpenampilan atau membawa barang bawaan, apalagi cuma buat naik kereta ekonomi. Semakin simple maka akan semakin mudah.
Perjalanan dimulai dari stasiun Blimbing, Kota Malang. Tidak ada jalur Malang-Jogja, saya harus transit di stasiun Kediri. Tiket Blimbing-Kediri adalah Rp 5.500,00 kala itu. Ada alasan khusus mengapa saya memilih stasiun Blimbing, sebab saya berangkat pada akhir pekan, di mana akan ada ribuan mahasiswa melaksanakan jadwal rutin mingguan pulang kampung dari stasiun Kotabaru. Jika saya naik dari stasiun Kotabaru, tentu rival saya bergelut untuk mendapat tempat duduk akan semakin banyak. Saya malas uyel-uyelan.
 Saya pilih KA Penataran pemberangkatan pukul tujuh pagi, niat saya agar kereta tidak penuh dan saya bisa lebih leluasa mendapat kursi. Stasiun Blimbing jauh lebih kecil dari Kotabaru. Dalam bayangan saya, akan banyak tempat duduk yang masih kosong. Namun ternyata angan saya nol besar. Kereta sangat penuh, bisa dibilang membludak. Saya berusaha naik, tapi tak tergapai. Kereta pelan-pelan sudah mulai bergerak. Petugas memberi pengumuman lewat corong pengeras suara agar penumpang tidak memaksakan diri dan naik kereta berikutnya saja.
Tidak bisa!
Jika saya naik kereta berikutnya, maka saya akan sampai di Jogja tengah malam buta. Ini akan sangat merepotkan. Akhirnya saya meminta seseorang menarik tangan saya agar bisa naik. Keringat mengucur deras. Dan yap! Akhirnya lantai kereta berhasil saya tapak.
 Astaga! Masih di muka pintu kereta saja saya sudah tak dapat bergerak. Overloaded!
Saya mempertahankan diri berdiri di sekitar pintu, menahan hembusan angin kereta yang melaju kencang sambil mendekap erat ransel yang saya panggul di bagian depan. Bermacam-macam bau saya hirup. Mulai dari bau keringat yang sangat masam, bau ketiak yang sangat menjijikkan, juga bau sayur dan minyak wangi yang memuakkan. Dua jam saya berdiri, hingga akhirnya ada tempat duduk kosong. Itupun sangat tidak nyaman, sebab saya duduk di samping lelaki yang begitu damainya mengebulkan asap rokok.
Akhirnya saya bisa menghirup udara segar ketika kereta menjejakkan roda di stasiun Kediri. Kereta saya selanjutnya adalah Kahuripan yang akan berangkat pukul tiga sore. Masih ada waktu sekitar dua setengah jam. Saya harus ke toilet untuk membasuh muka, rasanya tidak estetik sekali jika dilihat banyak orang dengan tampang kumal.
Setelah wajah kembali segar, saya harus mengisi perut, atau kalau tidak saya akan semaput. Berjibaku di KA Penataran telah menguras banyak energi. Saya pilih warung lesehan di halaman stasiun, di sini harga lebih murah daripada penjual makanan di dalam stasiun yang kerap pasang harga mencekik. Saya juga selalu menghindari membeli makanan yang dijajakan asongan dalam kereta. Konon, makanan yang dijual seringkali adalah makanan basi. Saya tidak tahu mitos ini benar atau tidak. Namun saya pernah sekali membeli, memang tidak basi, namun isinya sangat sedikit dengan rasa yang tidak karuan. Di lesehan, harga soto dan es degan total cuma Rp 8.000,00, nikmat dan sangat mengenyangkan.
Dua setengah jam adalah waktu yang sangat lama. Saya suka menghabiskan waktu ngrumpi dengan para pemilik warung. Hindari gengsi dalam bentuk apapun ketika sedang melakukan perjalanan. Bercengkerama dengan kakek-kakek tukang becak atau penjual bakso takkan memangkas harga diri. Pasang saja muka sok akrab meskipun tidak kenal. Jangan segan menanggapi pertanyaan atau membuka topik percakapan. Percayalah bahwa mereka bukan penjahat. Kalau tidak nyaman, lebih baik ngadem di mushola sambil men-charge HP. Sangat tidak lucu melakukan perjalanan jauh tapi HP lowbatt, pasti akan sangat membosankan.
Dan ups! Oh sebentar…
Selop saya menganga. Lem sandalnya sudah aus. Dengan jalan terseok saya mencari toko yang menjual sandal jepit. Sial sekali tidak ada. Bagaimana saya bisa berjalan dengan alas kaki seperti ini? Mau tidak mau saya harus mencari toko penjual lem super (alteco) untuk menambal selop yang sebenarnya sudah minta ganti. Kejadian ini menyentil saya bahwa ketika bepergian setidaknya saya harus membawa benda-benda kecil untuk mengatasi keadaan darurat semacam gunting, cutter, atau jarum dan benang.
Pukul setengah tiga, loket sudah dibuka. KA Kahuripan Kediri-Jogja waktu itu Rp 24.000,00. Setiap kali ke Jogja, saya selalu minta petugas untuk memilihkan tempat duduk hadap depan dekat jendela. Ini penting diperhatikan, sebab jika mendapat tempat duduk yang berlawanan dengan arah laju kereta saya sering merasa pusing dan mual. Duduk dekat jendela juga menguntungkan, selain bisa melihat pemandangan, juga bisa menyandarkan kepala ketika mengantuk. Ancaman duduk di dekat jendela biasanya adalah pelemparan batu hingga menyebabkan kaca pecah, namun saya belum pernah mengalami hal semacam ini.
KA Kahuripan menempuh perjalanan yang sangat panjang sebab pemberhentian terakhir adalah stasiun Padalarang, Bandung. Di kereta ekonomi ini saya sering menyimak banyak kisah dan cerita. Tanpa mengurangi kewaspadaan, sekali lagi tidak perlu segan berbincang dengan orang yang baru dikenal.
Kali ini di depan saya adalah seorang ibu yang gelisah. Saya lihat dia tidak membawa barang bawaan apapun. Aneh. Penumpang KA Kahuripan rata-rata akan turun di daerah Jawa Tengah atau Jawa Barat, mustahil pergi tanpa membawa tas. Matanya terlihat sembab, wajahnya nampak frustasi.
“Mau ke mana, Bu?” tanyaku mencoba bersahabat.
“Mencari anak saya, Mbak,” jawabnya hampir terisak.
Kemudian dia menunjukkan pas foto hitam putih yang sudah tak terlalu jelas. Nampak seorang remaja lelaki yang tidak terlalu jelek.
“Memang anaknya ke mana, Bu?” tanyaku lagi.
“Tidak tahu, Mbak. Sejak tiga hari dia tidak pulang.”
Ibu itu menceritakan bahwa anaknya menyandang keterbalakangan mental dan tunarungu. Dia sering bermain di sekitar stasiun. Ibu itu menduga anaknya turut bersama kereta. Yang tragis adalah Ibu itu tidak tahu anaknya terbawa kereta yang mana. Rasanya begitu terkesiap. Para penumpang yang satu blok tempat duduk dengan kami juga nampak begitu prihatin. Kemudian seorang lelaki tanggung di blok bangku seberang turut menyahut.
“Aku juga sedang mencari bapakku,” ujarnya.
“Bapakmu di mana?” tanya lelaki tua di sebelahku.
“Katanya sih di Tangerang,” jawab pemuda tanggung itu.
“Kok katanya?”
“Aku juga ndak tahu, kabar terakhir yang kudengar orange jualan bakso di Tangerang.”
“Sudah tahu alamatnya belum?” tanya lelaki tua di sebelahku lagi.
“Ndak, aku cuma tau bapak ada di Tangerang.”
Aku menghela nafas. Pemuda itu sebenarnya lugu atau bodoh. Mencari orang di kota besar tanpa memegang alamat sama saja mencari jarum di tumpukan jerami.
Lalu satu per satu orang-orang yang duduk di blok bangku ini saling bercerita dan mencurahkan isi hati. Mereka bercerita dengan tulus, berbagi kisah hidup, tentang pekerjaan, keluarga hingga kondisi ekonomi. Gelak tawa sesekali terdengar, lalu berubah sendu ketika ada yang bercerita dengan tema sedih. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh dari mereka.
Hanya di kereta ekonomilah puluhan makna-makna kehidupan bisa diambil dengan gratis. Kereta ekonomi bisa membuat saya lebih luwes memandang betapa sebenarnya saya telah diberi kenikmatan hidup tiada tara. Saya juga bisa melihat semangat sekaligus wajah lelah yang terpancar dari para asongan: bapak-bapak penjual nasi pecel, ibu-ibu penjual kopi seduh, dan seorang pemuda ganteng yang biasa jualan air mineral di sepanjang jalur Kertosono-Madiun. Inilah yang membuat saya ketagihan nge-backpaker lewat jalur kereta rakyat, sebab ada banyak hal berharga yang takkan didapat jika saya mbolang dengan travel atau pesawat terbang.

***


NEW GIFT FROM COMMANDER'S LADY

She gave me the material of PIA's uniform freely as my wedding gift ^_^



Rabu, 05 Desember 2012

ANTON BUKAN IDIOT



Curcol Anton Bukan Idiot menjadi salah satu kontributor pemenang dalam lomba menulis kisah Indahnya Berbagi yang diselenggarakan oleh Penerbit Oase Qalbu

Dengan usaha yang tidak begitu keras akhirnya aku lolos sebagai pengajar di lembaga bimbingan belajar ini. Ya maklum, hanya bimbel lokal, pemiliknyapun ternyata juga seorang mahasiswa yang sedang belajar bisnis. Namun senang sekali rasanya, akhirnya hidupku tidak hanya sebatas kuliah dan kos-kosan, aku bisa belajar mengajar, memanfaatkan ilmu yang kudapat di kampus. Bosku bernama Given, perempuan etnis peranakan Cina. Meskipun pemeluk Budha, tapi dia sangat menghormatiku sebagai muslim.
Aku mengajar bocah-bocah SD, mencakup semua mata pelajaran, padahal bidang asliku adalah bahasa Indonesia. Ah, diterima saja sudah untung, sebab hampir semua bimbel tidak menerima pengajar dari jurusan bahasa Indonesia. Kebanyakan kalau tidak bahasa Inggris ya hanya bidang ilmu-ilmu eksak. Aneh, padahal pada ujian nasional, nilai yang kerap anjlok justru di bahasa Indonesia. Hanya di Indonesia, masyarakat sering meremehkan bahasa sendiri, dianggap tak penting, dianggap setiap hari sudah ngomong bahasa Indonesia, tak perlu lagi dipelajari.
Nama bimbel ini Brilliant. Tidak akan didapati ruang yang nyaman dan representatif seperti bimbel-bimbel yang sudah tersohor di Indonesia. Given membuka lapaknya di salah satu kampung kecil. Dia menyewa satu ruangan di rumah milik pamannya sebagai kelas. Ya, hanya satu ruangan. Lesehan. 
Ini hari pertamaku. Murid-murid telah datang. Hanya empat orang. Itupun hanya anak-anak kampung sekitar. Salah seorang yang menarik perhatianku adalah Anton. Nama lengkapnya Anton Subekti. Menurutku itu adalah nama yang cukup keren bagi anak yang tinggal di daerah kecil seperti ini. Sekilas kupandangi perawakannya, terlalu biasa, dengan warna kulit coklat gelap dan kusam, efek terlalu sering bermain di bawah terik matahari.
Aku menyapanya dengan riang, namun dia membalasku dengan tatapan aneh, semacam ada ekspresi cuek, takut, namun tetap siaga waspada terhadap orang asing. Dia diam, tak mengeluarkan sepatah katapun, tenggelam asyik bermain motor-motoran plastik yang sepertinya hadiah dari jajanan chiki yang sedari tadi dipeganginya.
Anton masih kelas dua, salah, seharusnya sudah kelas lima SD. Dia sering tinggal kelas karena bodoh. Ya, setidaknya itulah sekilas informasi yang kudapat dari Bayu dan Senja, dua anak lain yang sedang kuajar. Sedangkan dari Given, dia hanya memberitahuku bahwa Anton memang lambat belajar.
Learning disability?
Given menggeleng. Bukan karena dia tahu apa yang terjadi, tapi karena dia memang tidak tahu menahu soal Anton. Ah tentu saja, Given kuliah di jurusan manajemen, mana dia tahu soal beginian. Yang dia tahu hanyalah dia mengelola bimbelnya dengan baik, urusan anak didik dia serahkan kepada pengajar. Given hanya tahu orangtua Anton mendaftarkan anaknya di Brilliant agar Anton bisa belajar dengan baik dan naik kelas dengan nilai bagus.
Aku semakin terkejut. Anton tidak bisa membaca, padahal untuk usia seperti Anton seharusnya dia sudah mampu membaca novel anak-anak. Pantas saja ketika kusuruh mengerjakan soal dia tak bergerak sedikitpun. Padahal sudah kupaksa, bahkan sempat kubentak, karena sedari tadi dia hanya diam, bahkan terus saja bermain dengan mainan motor plastiknya.
Lalu bagaimana sekolah Anton selama ini? Bagaimana dia mengerjakan tugas? Bagaimana dia bisa mengerjakan ulangan? 
Aku dekati Anton, kulihat bukunya. Dia bisa menulis. Tulisannya kacau, tegak bersambung dan tidak proporsional. Dia menyerahkan LKS IPS kepadaku, memintaku membantu mengerjakannya. Aku mengangguk, meskipun aku harus membantunya dengan cara yang kurang wajar sebagai pengajar. Aku memberitahu jawabannya mentah-mentah─sesuatu yang sebenarnya selalu kuhindari karena membuat murid tidak mau berpikir dan kreatif─,  lalu membimbingnya mendikte setiap huruf dari jawaban itu. Waktu mendadak berjalan lambat. Sudah kudikte dengan jelas, namun Anton masih saja salah menulis huruf. Dia sering menghapus tulisannya, membuat LKS nya begitu kusam dan kumal. Rasanya sungguh jengkel karena harus mengejakan huruf untuknya berulang-ulang. 
Aku berbincang dengan Given, menanyakan riwayat belajar Anton.
“Dulu dia pernah didaftarkan orangtuanya di Sekolah Luar Biasa, tapi dia ditolak karena Anton dinilai normal dan tidak menyandang cacat. Itulah mengapa sampai saat ini dia tetap belajar di sekolah umum,” terang Given seadanya.
Aku mengangguk. Anak itu memang lambat dalam belajar. Butuh perhatian ekstra, apalagi dia sudah berkali-kali tinggal kelas.
Kubuka textbook psikolinguistik. Tak salah lagi, Anton menderita disleksia. Semua ciri-ciri sudah menempel padanya. Tidak bisa mengeja, menulis tanpa spasi, perhatian mudah teralih, sulit berkomunikasi, dan lain sebagainya.
Hari-hari selanjutnya aku lebih memerhatikan Anton. Bayu, Senja dan Atika sudah cerdas, jadi lebih gampang dikendalikan. Namun Anton tidak. Dia harus belajar benar-benar mulai dari awal. Kugunakan waktu untuk mengajari Anton mengeja huruf, lalu menulis namanya sendiri. Rasanya memang jauh berbeda ketika harus mengajari anak yang tidak memiliki gangguan serupa disleksia. Hanya untuk menulis ‘Anton’ saja membutuhkan waktu hampir setengah jam.
Di hadapan Anton mendadak aku merasa menjadi orang yang sangat berguna. Padahal sebelumnya aku merasa hidupku sangat datar, aku tidak terlalu pandai di kampus, juga tidak mempunyai prestasi yang bisa dibanggakan. Tapi ketika membantu Anton belajar, aku merasa mendapat kepuasan batin yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Aku memang tak bisa memberikan apa-apa untuk Anton, tapi setidaknya aku tahu kalau dia menderita disleksia, sehingga orangtua Anton tahu kalau anaknya bukanlah anak bodoh atau abnormal.
Hanya inilah yang bisa kuberikan pada Anton. Bukan uang, atau mainan mahal, tapi hanya bisa mengajarinya mengeja, membaca dan menulis huruf. Aku harap ketika sudah dewasa Anton tidak rendah diri dengan kekurangannya ini. Bukankah Thomas Alfa Edison, Walt Disney dan Tom Cruise juga penderita disleksia?
Benar apa kata Christopher McCandless: happiness is only real when shared. Kebahagiaan itu ada jika kita mau berbagi.
***

HADIAH ULANG TAHUN UNTUK AFANDI

Seringkali wanita merasa bingung untuk memberikan hadiah yang tepat untuk pria tercinta. Baju, jam tangan, parfum, dasi, mug, barangkali menjadi sajian kado yang sudah sangat basi dan biasa. Itu pula yang terjadi padaku ketika harus memikirkan kado apa yang tepat untuk ulang tahun Afandi yang ke-24 pada 28 Agustus 2012 lalu. Dan akhirnya inilah, sebuah buku antologi tentang romantisme tentang makanan yang kususun bersama teman-teman penulis indie. Buku ini dirilis istimewa untuk Afandi, sebagai kado ulang tahun yang kupersembahkan untuknya ^_^




KISAH KECIL DI BERANDA
Secarik Cerita Nyata Di Antara Kita

Kau datang menggerasak begitu saja, menawarkan cinta tanpa bunga atau senjata rupa-rupa. Aku menjauh, berlari, menghindar, namun kau merapat, mendekat dan kian menjerat.
Apa istimewamu? Di mataku kau hanya segumpal daging berjalan agak tampan dengan pipi seranum jambu biji. Bibirmu merekah merah muda, begitu lembut seolah aku menyesap krim susu vanilla.
Aku tak pernah benar-benar menginginkanmu. Namun episode setengah hati itu berakhir pada suatu pagi di hari Minggu bulan Mei. Kau biarkan jemarimu dikotori saus sambal. Dengan sabar kau membukakan cangkang kepiting agar bisa leluasa kumakan, merelakan gigimu bergemerutuk ramai seolah mengunyah remah-remah kaca. Lalu tanganmu, penuh kasih, menyuapkan daging putih itu ke mulutku. Aku lahap mengunyah, kau buat aku kenyang tanpa membiarkan aku terserit luka apalagi darah. Aku hanya tinggal diam duduk tenang, menyaksikanmu dengan damai saat kau bersusah payah memecah cangkang hingga belah.
Kau pernah pula memaksaku. Menyeretku dari tempat tidur di pagi buta, meneriakiku agar segera mandi dan berganti baju. Aku kesal, ingin sekali kumenghajarmu karena telah mengganggu lelapku. Kau segera menstarter motormu. Ibumu menyiapkan mantel agar kita tak terlalu kuyup diguyur langit yang sedang menangis histeris. Hujan deras dahsyat, kabut begitu tebal bagai jelaga putih yang tak lumat, angin kencang menghempas keras, namun kau rela menerjang badai dalam jarak perjalanan yang tak sebentar demi mengantarku mengejar ujian. Kau menungguiku di depan kelas dengan baju lembab dan celana basah. Apa kau tahu betapa galaunya aku memandangimu dari balik kaca jendela? Kau melempar senyum lugu seolah keadaanmu baik-baik saja. Aku bisu. Mulai sadar betapa beruntungnya aku memilikimu.
Pada episode yang lebih lalu. Kau mengabulkan pintaku menerobos kabut dingin di kebun Apel. Kau menggigil, namun aku tetap merengek agar kau menemaniku menembus jalanan hingga wajahmu begitu pasi diterpa udara sebeku Antartika. Itu kencan pertama kita, dan aku mengajakmu mencuri buah kesemek yang bergelantung meriah di tepi jalan dekat air terjun. Kau bilang, cintamu padaku tak berkurang apalagi berpaling meski aku telah menyeretmu menjadi maling.
Lelakiku, majas hiperbola setinggi langit pun takkan mampu mengilustrasikan betapa besar volume jiwamu menerima segala tingkahku yang kerap memutus pembuluh jantungmu. Betulkah kau cinta? Ah, tak pantas aku bertanya. Bodoh! Keterlaluan! Gila jika aku masih saja tak percaya. Matamu, tanganmu, tabahmu, telah begitu lancar berbicara tanpa aku harus melempar curiga. Kau bagai kedalaman telaga semburat tosca yang selalu menjadi kawan terbaik bagi Nymphaea Odorata yang sedang genit berbunga.
Kau beri kasih tanpa pamrih, sayangmu tanpa tanda seru, mencinta tanpa tanda tanya. Mana mungkin aku mencampakkan jiwamu yang tulus dan setia mengusik tanpa tanda titik. Kau tetap duduk di sebelahku meski aku kerap menghujam palu ke kepala hingga kakimu. Kau biarkan bahumu ditinju gelagat manjaku, kau biarkan dadamu ditimpa berliter airmata gulanaku, kau biarkan perutmu menjadi sarang lampiasan amarahku. Manusia macam apa kau, Lelakiku? Apa artiku bagimu?
Begundalku, kau segalanya bagiku, Monosodium Glutamat yang selalu membuat rasaku kian kuat dan tambah pekat. Jawabmu.
Lelakiku, terimakasih telah memilihku, meski aku tahu kelak kebahagian kita akan dimulai dengan merangkak dan merayap di rumput basah dan jalan berbatu. Kebersamaan kita akan selalu bersisian, menyusun balok demi balok batu bata untuk membangun dua jiwa hingga cinta diputus habisnya usia.
Jangan kau beranjak ke mana-mana, tetaplah di sisiku, menemaniku, di kala gelap, di kala terang, seperti lentera abadi yang memberi pantulannya dengan setia.

E. Wahyuni & A. Afandi

***