Minggu, 11 Mei 2014

CHOCO TIME

Hari ini gue galau.
Laki gue udah balik lagi ke Makassar setelah tiga minggu pulang ke pelukan. Tadi pagi gue nganterin dia ke DAAU Lanud Abdul Rachman Saleh. Mata gue ijo (dalam artian sebenernya). Soalnya entah mengapa di sono mendadak banyak tentara dari Kostrad. Slentang-slenting sih pada mau terbang ke Jakarta.

Karena di rumah kagak ada orang, hang outlah gue nyari cemilan. Gue rada-rada penggila pastry gitu deh. Suka banget sama kue-kue lucu yang manis-manis. Sejenak gue harus memaksa diri untuk amnesia sementara sama lemak di tubuh gue yang udah mbleber ke mana-mana.

Gue beli Cannoli. Kue Cannoli ini sebenernya adalah desert khas Italia. Bentuknya lonjong mirip hotdog. Topingnya itu semacam kayak kerupuk gambir yang diancurin sama choco chips. Di tengah-tengahnya ada krim warna putih. Ketika digigit, di dalamnya ada krim cokelat. Manisnya pas. Dan nggak bikin eneg.

Foto: dokumen pribadi

Yang kedua gue beli Blueberry Muffin. Gue penggemar berat muffin, cupcake, dan semacamnya. Muffin berasal dari kata moufflet. Simpel tapi enak dan cukup mengenyangkan.

Foto: dokumen pribadi
Makan cokelat memang bisa menjadi pelampiasan emosional non anarkis. Coklat mengandung unsur Phenilethylamine (PEA) yang dapat stimulasi perasaan bahagia dan perasaan yang positif. Cucok banget buat gue yang lagi mellow ditinggal suami.

2 komentar:

  1. Wah.. sama mbak.. Aku juga kalo lagi bete, biasanya langsung borong makanan atau snack rasa cokelat gitu, entah sugesti atau apa, tapi kalo lagi bete dan dikasih makan cokelat itu, bisa sedikit, ilang betenya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap. Aku kalo lagi feel blue pelariannya ke makanan. Makanya nggak pernah bisa kurus :D

      Hapus